TUHAN berbicara kepada Musa
Bilangan 6:1-21
Orang yang Bernazar
Alkitab Yang Terbuka (AYT) · ketuk nomor ayat untuk arti & konteksnya
Latar belakang
Musa menerima perintah dari TUHAN
Ayat ini adalah kalimat pembuka yang memperkenalkan serangkaian peraturan tentang nazir. TUHAN berbicara langsung kepada Musa, menunjukkan bahwa hukum ini berasal dari otoritas ilahi.
Di mana
Gunung Sinai / padang gurun Sinai
Kemah Suci, sekitar Gunung Sinai
Kapan
~1440 SM
Pengembaraan di padang gurun
Yang berbicara
Penulis kitab Bilangan (tradisi Musa)
Sumber tradisional, menggambarkan peristiwa
Kepada
Umat Israel
Bangsa pilihan yang sedang dalam perjalanan
Arti tiap ayat
Penjelasan Bilangan 6:1-21 Ayat per Ayat
Bilangan 6:1
Ayat ini mencatat bahwa TUHAN berfirman kepada Musa, menunjukkan bahwa hukum tentang nazir berasal dari Allah dan diberikan melalui Musa sebagai perantara kepada umat Israel.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:2
Ayat ini menjelaskan bahwa seorang nazir adalah orang yang membuat nazar khusus untuk mengabdikan dirinya kepada TUHAN, secara sukarela memisahkan diri dari hal-hal tertentu sebagai tanda pengabdian dan kekudusan.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:3
Ayat ini menetapkan bahwa seorang nazir harus menjauhkan diri dari anggur dan minuman keras, termasuk segala bentuk minuman memabukkan dan produk anggur, sebagai tanda pengendalian diri dan kekudusan.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:4
Ayat ini memperkuat larangan bagi nazir untuk memakan apa pun yang berasal dari pohon anggur, termasuk biji dan kulitnya, menegaskan totalitas pengabdian dan pemisahan diri dari kenikmatan duniawi.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:5
Ayat ini melarang nazir mencukur rambut sepanjang masa pengabdian. Rambut panjang menjadi tanda lahiriah dari kekudusan dan komitmen mereka kepada Tuhan sampai masa pengabdian selesai.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:6
Ayat ini melarang nazir mendekati mayat selama masa pengabdian, bahkan untuk kerabat terdekat, karena kontak dengan kematian akan menajiskan mereka dan membatalkan kekudusan yang dijanjikan.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:7
Ayat ini menegaskan bahwa seorang nazir tidak boleh mendekati mayat, bahkan untuk keluarga terdekat sekalipun. Ini menunjukkan bahwa selama masa nazar, komitmen kepada TUHAN harus diutamakan melebihi ikatan keluarga…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:8
Ayat ini menegaskan bahwa selama masa pengabdian, seorang nazir harus kudus bagi TUHAN, artinya dipisahkan khusus untuk pelayanan dan hidup sesuai kehendak Tuhan. Ini adalah panggilan untuk hidup yang berdedikasi penuh.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:9
Jika seorang nazir secara tidak sengaja menjadi najis karena ada orang mati di dekatnya, dia harus mencukur rambutnya pada hari ketujuh sebagai tanda pembatalan masa nazar sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kekudusan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:10
Pada hari kedelapan, nazir harus membawa dua ekor burung tekukur atau merpati muda kepada imam di pintu kemah pertemuan sebagai bagian dari ritual pentahiran setelah kenajisan. Ini menunjukkan perlunya persembahan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:11
Imam mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran untuk mengadakan pendamaian bagi nazir yang najis karena orang mati. Pada hari itu juga, nazir harus menguduskan kepalanya, menandakan pembaruan komitmen…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:12
Setelah pentahiran, nazir harus kembali mengabdikan diri kepada TUHAN, membawa domba jantan sebagai kurban penebus salah. Masa nazar sebelumnya dianggap batal, jadi dia harus memulai dari awal. Ini menekankan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:13
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika seorang nazir menyelesaikan masa pengabdiannya, ia harus membawa persembahan ke pintu Kemah Pertemuan. Ini menandakan akhir dari nazar dan awal dari kehidupan normal kembali, dengan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:14
Ayat ini merinci persembahan yang harus dibawa oleh seorang nazir: seekor domba jantan untuk kurban bakaran, seekor domba betina untuk kurban penghapus dosa, dan seekor domba jantan untuk kurban pendamaian. Semua harus…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:15
Ayat ini menambahkan persembahan berupa satu keranjang roti tidak beragi, roti tipis yang diolesi minyak, serta kurban sajian dan persembahan curahan. Ini melambangkan ucapan syukur dan persekutuan dengan Tuhan, serta…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:16
Ayat ini menunjukkan bahwa imam membawa persembahan nazir dan mempersembahkan kurban penghapus dosa serta kurban bakaran kepada TUHAN. Ini menegaskan peran imam sebagai perantara dan bahwa penyelesaian nazar melibatkan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:17
Ayat ini melanjutkan bahwa imam mempersembahkan domba jantan sebagai kurban pendamaian bersama dengan roti tidak beragi, kurban sajian, dan persembahan curahan. Ini menekankan pemulihan hubungan dengan Allah dan…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:18
Ayat ini menggambarkan bahwa nazir mencukur rambutnya di pintu Kemah Pertemuan dan membakarnya dalam api di bawah kurban pendamaian. Ini adalah tindakan simbolis melepaskan kenaziran dan menyerahkan seluruh…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:19
Ayat ini menggambarkan ritual penutup nazar nazir: setelah mencukur rambutnya di pintu kemah pertemuan, imam meletakkan bahu domba yang dimasak, roti tidak beragi, dan roti tipis di telapak tangan nazir sebagai…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:20
Ayat ini menjelaskan bahwa persembahan unjukan itu menjadi bagian kudus untuk imam, bersama dengan dada dan paha persembahan. Setelah ritual selesai, nazir itu diperbolehkan minum anggur lagi, menandakan berakhirnya…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Bilangan 6:21
Ayat ini merangkum hukum tentang nazir: selain persembahan yang ditentukan, mereka boleh menambahkan persembahan sukarela sesuai kemampuan dan nazar yang diucapkan. Ini menunjukkan bahwa komitmen kepada Tuhan bersifat…
Arti lengkap, studi kata & renungan →