Laban menjawab: baiklah! Jadilah seperti yang kaukatakan itu
Kejadian 30:34
Yakub dan Laban bernegosiasi
“Laban menjawab, “Baiklah! Jadilah seperti yang kaukatakan itu.””Kejadian 30:34 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Kemudian kata Laban: "Baik, jadilah seperti perkataanmu itu."”Kejadian 30:34 · TB
Terjemahan Baru
“Laban menjawab, "Setuju! Kita akan melakukan apa yang kauusulkan itu!"”Kejadian 30:34 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Jawab Laban, “Baiklah, aku setuju!””Kejadian 30:34 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And Laban said, Behold, I would it might be according to thy word.”Kejadian 30:34 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Kejadian 30:34?
Laban menyetujui usul Yakub dengan berkata, "Baiklah! Jadilah seperti yang kaukatakan itu." Laban setuju dengan perjanjian itu, mungkin karena dia pikir itu akan menguntungkannya karena hewan berbintik jarang.
Latar belakang
Vatomer Laban hen lu yehei kidvareka: Laban berkata baiklah! Jadilah seperti yang kaukatakan itu
'Vatomer Laban hen lu yehei khidvareka' — dan Laban berkata: baiklah! Jadilah seperti yang kaukatakan itu. 'Hen' = lihatlah/baiklah; 'lu yehei' = kiranya jadilah/jadilah. Kalimat paling pendek dalam seluruh negosiasi — satu jawaban 'ya' yang singkat tapi mengikat. Laban mungkin berpikir ini adalah kesepakatan yang sangat menguntungkan: mayoritas ternak tetap miliknya, Yakub hanya minta yang langka. Yang Laban tidak bayangkan: dalam 6 tahun ke depan, keseimbangan akan berbalik secara dramatis.
Di mana
Padan-Aram, Haran
Perjanjian disepakati — dalam satu kata singkat Laban mengikat dirinya pada kesepakatan yang ternyata tidak dia penuhi dengan jujur
Kapan
Sekitar 1743 SM
Laban setuju — perjanjian ternak belang resmi dimulai; tapi implementasinya langsung curang dari pihak Laban
Yang berbicara
Laban
Yang menerima kesepakatan dengan satu kata — mungkin karena dia merasa ini sangat menguntungkan baginya
Kepada
Yakub
Yang mendengar 'ya' dari Laban — kesepakatan yang segera Laban langgar dengan caranya sendiri (30:35)
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
הֵן לוּ יְהִי כִדְבָרֶךָ
hen lu yehei khidvareka · baiklah
Baiklah! Jadilah seperti perkataanmu — hen (lihatlah/baiklah; partikel persetujuan; 'hen' = lihatlah/demikianlah; ekspresi penerimaan); lu yehei (kiranya jadilah; 'lu' = partikel optatif/harapan = kiranya; 'yehei' dari hayah = ada/menjadi; qal jussif = kiranya terjadi/jadilah; 'lu yehei' = biarkan hal itu terjadi = kiranya demikianlah); khidvareka (seperti perkataanmu; dari davar = kata/perkataan + sufiks = perkataanmu; 'ki + davar + sufiks' = sesuai dengan perkataanmu; perjanjian formal yang mengikat: Laban menyetujui syarat-syarat yang Yakub ucapkan).
Vatomer Laban hen lu yehei khidvareka (dan Laban berkata baiklah kiranya jadilah seperti perkataanmu). Hen lu yehei — 'baiklah kiranya jadilah': penerimaan yang mengikat secara hukum adat; satu kalimat pendek yang menutup negosiasi panjang. Khidvareka — 'seperti perkataanmu': Laban terikat pada syarat-syarat yang Yakub sampaikan; tapi dalam ayat berikutnya Laban langsung bergerak untuk meminimalkan kerugiannya dengan cara yang tidak jujur.
Tahukah kamu
Persetujuan Laban dalam satu kalimat singkat 'baiklah!' (hen lu yehei) kontras dengan panjangnya penjelasan Yakub di 30:29-33 — Laban yang tidak sabar atau yakin ini kesepakatan bagus tidak perlu banyak kata; tapi kesepakatan yang paling mengubah nasibnya diucapkan dalam satu napas
Seluruh negosiasi dari 30:28-34 didominasi oleh kata-kata Yakub yang hati-hati dan terencana (30:29-33 = 5 ayat penjelasan Yakub). Laban hanya berbicara dua kali: 'apa yang harus kuberikan kepadamu?' (30:31) dan 'baiklah!' (30:34). Ketidakimbangan ini mengungkapkan karakter keduanya: Yakub yang terencana dan berbicara dengan hati-hati; Laban yang impulsif menerima karena melihat kesempatan untung tanpa membaca detail.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Kejadian 30:34
Matius 5:37
Yesus mengajarkan bahwa 'ya' harus berarti 'ya' (Mat. 5:37); Laban yang mengatakan 'baiklah!' (30:34) tapi langsung bertindak curang (30:35) menunjukkan 'ya' yang tidak setara dengan 'ya'; kesenjangan antara persetujuan lisan dan tindakan adalah masalah integritas
“Tetapi hendaklah perkataanmu: ya, ya; tidak, tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Bilangan 30:2
Hukum Musa tentang memenuhi nazar dan janji (Bil. 30:2) adalah standar yang Laban gagal penuhi; 'hen lu yehei khidvareka' (30:34) adalah persetujuan lisan yang mengikat, tapi Laban segera mencari cara untuk meminimalkan dampaknya bagi dirinya
“Apabila seseorang bernazar suatu nazar kepada TUHAN atau bersumpah dengan mewajibkan dirinya dengan suatu ikrar, janganlah ia melanggar janjinya; ia harus melakukan segala sesuatu yang telah diucapkannya.”
Kejadian 31:7
Yakub nanti mengingat dalam 31:7 bahwa Laban 'mengubah upahku sepuluh kali'; persetujuan 'hen lu yehei' (30:34) yang terdengar formal adalah awal dari serangkaian pelanggaran yang Laban lakukan terhadap perjanjian; satu 'ya' yang diikuti puluhan pelanggaran
“Namun, ayahmu telah menipuku dan mengubah upahku sebanyak sepuluh kali. Akan tetapi, Allah tidak membiarkannya menjahatiku.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Kejadian 30:34
✕ Sering dikira
"Bahwa Laban setuju dengan satu kalimat berarti dia adalah orang yang berkata iya tanpa berpikir panjang dan perlu dikasihani."
✓ Yang sebenarnya
Laban bukan orang yang mudah dimanfaatkan — dia adalah pragmatis yang cerdik. Dia setuju karena dia yakin proposal ini menguntungkan dia (ternak berbintik langka). Tindakannya di 30:35 (langsung memisahkan ternak berbintik ke tangan anak-anaknya) menunjukkan dia langsung berstrategi untuk melindungi posisinya.
✕ Sering dikira
"'Hen lu yehei khidvareka' adalah perjanjian yang sah secara hukum dan Laban akan menepatinya."
✓ Yang sebenarnya
Ironisnya, Laban yang menerima 'seperti perkataanmu' langsung melanggar semangatnya di 30:35 dengan memisahkan ternak berbintik ke anak-anaknya. Dan menurut Yakub di 31:7, Laban mengubah upahnya sepuluh kali. 'Baiklah!' yang diucapkan Laban tidak diiringi dengan implementasi yang jujur.
Renungan
Renungan Singkat Kejadian 30:34
Kadang kita membuat perjanjian yang tampaknya menguntungkan kita, tetapi Allah dapat memakai situasi itu untuk memberkati kita. Percayalah bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal.
Tuhan, aku percaya bahwa Engkau memegang kendali atas hidupku, bahkan dalam keputusan-keputusan yang aku buat. Amin.