Bukankah Hakim Semesta Bumi akan berlaku adil — kalimat teologis terbesar Abraham
Kejadian 18:25
Abraham Memohon untuk Sodom
“Kiranya, jauh dari-Mu untuk melakukan hal itu, membinasakan lima puluh orang benar bersama-sama dengan orang jahat. Kiranya hal itu jauh dari-Mu! Bukankah Hakim Semesta Bumi akan berlaku adil?””Kejadian 18:25 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"”Kejadian 18:25 · TB
Terjemahan Baru
“Janganlah orang-orang yang tidak bersalah itu dibunuh bersama-sama dengan yang bersalah. Jangan TUHAN! Sebab jika TUHAN melakukannya, orang yang tidak bersalah pasti akan dihukum bersama-sama dengan yang bersalah. Mana mungkin hakim alam semesta bertindak tidak adil!"”Kejadian 18:25 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Tentu tidak baik bagi-Mu untuk membinasakan orang baik bersama dengan orang jahat, atau memperlakukan orang baik seperti orang jahat. Tentu Engkau tidak akan melakukan itu, karena Engkau adalah hakim atas semua orang di bumi. Engkau pasti menghakimi dengan adil!””Kejadian 18:25 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“That be far from thee to do after this manner, to slay the righteous with the wicked: and that the righteous should be as the wicked, that be far from thee: Shall not the Judge of all the earth do right?”Kejadian 18:25 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Kejadian 18:25?
Ayat ini adalah inti dari keberanian Abraham untuk menawar Tuhan. Abraham menegaskan bahwa mustahil bagi Tuhan, sebagai Hakim seluruh bumi, untuk bertindak tidak adil dengan menyamakan orang benar dan orang jahat. Ini menunjukkan keyakinan Abraham pada keadilan Tuhan yang sempurna.
Latar belakang
Hashofet kol ha'arets lo ya'aseh mishpat — Bukankah Hakim Semesta Bumi akan melakukan keadilan
Kiranya, jauh dari-Mu untuk melakukan hal itu, membinasakan lima puluh orang benar bersama-sama dengan orang jahat. Kiranya hal itu jauh dari-Mu! Bukankah Hakim Semesta Bumi akan berlaku adil? Puncak dari seluruh argumen Abraham ada dalam satu kalimat terakhir: 'hashofet kol ha'arets lo ya'aseh mishpat?' = 'Bukankah Hakim Semesta Bumi akan melakukan keadilan?' Ini adalah pertanyaan retorik yang menggunakan pengakuan tentang karakter Allah sebagai argumen untuk permohonan Abraham. Abraham tidak memohon dengan mengandalkan kemurahan Abraham sendiri atau kualitas orang-orang yang dimohon. Dia memohon berdasarkan karakter Allah: Allah adalah Hakim Semesta Bumi — dan Hakim yang baik tidak menghukum orang benar bersama orang jahat.
Di mana
Di hadapan TUHAN — di jalan antara Mamre dan Sodom
Puncak teologis dari dialog syafaat Abraham — kalimat yang merangkum seluruh argumennya
Kapan
Sekitar 1860 SM
Klimaks teologis dialog syafaat — sebelum TUHAN menjawab dengan persetujuan
Yang berbicara
Abraham
Yang mengucapkan kalimat teologis yang paling berani dan paling dalam dalam seluruh kisah Abraham — sebuah pengakuan tentang karakter Allah sebagai Hakim yang adil, diucapkan sebagai argumen dalam syafaat
Kepada
TUHAN
Yang menerima pengakuan tentang karakter-Nya sendiri dari Abraham — dan merespons dengan persetujuan
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
חָלִלָה לְּךָ
hallilah lekha · jauh dari-Mu
Jauh dari-Mu/tidak mungkin bagi-Mu — hallilah (profanasi/penghujatan; dari halal = mengotori, menghujat; dalam konteks negatif = kiranya tidak, jauh dari; ungkapan yang kuat menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan karakter seseorang); lekha (bagimu; sufiks orang kedua); 'hallilah lekha' = 'jauh dari-Mu untuk melakukan itu' = 'tidak mungkin ini sesuai dengan karakter-Mu.'
שֹׁפֵט כָּל הָאָרֶץ
shofet kol ha'arets · Hakim Semesta Bumi
Hakim seluruh bumi — shofet (hakim; dari shaphat = menghakimi; partisip = yang menghakimi, hakim; gelar resmi yang menunjukkan fungsi kehakiman); kol (seluruh, semua); ha'arets (bumi, tanah; dengan artikel = bumi yang spesifik = seluruh bumi, bukan hanya Kanaan); Abraham memberikan gelar universal kepada Allah: Hakim bukan hanya atas Israel tapi atas seluruh bumi.
יַעֲשֶׂה מִשְׁפָּט
ya'aseh mishpat · berlaku adil
Akan melakukan keadilan/penghakiman — ya'aseh (Dia akan melakukan; dari 'asah = melakukan; imperfek orang ketiga maskulin = Dia akan melakukan); mishpat (keadilan, penghakiman, hak; dari shaphat = menghakimi; mencakup proses yang adil dan keputusan yang tepat); 'ya'aseh mishpat' = 'akan melakukan keadilan' = akan menghakimi secara adil.
Hallilah lekha me'asot kadavar hazeh lehamit tsaddiq 'im rasha' vehayah katsaddiq kara'sha' hallilah lekha hashofet kol ha'arets lo ya'aseh mishpat (Jauh dari-Mu untuk melakukan seperti hal ini membunuh orang benar bersama orang jahat dan jadilah orang benar seperti orang jahat jauh dari-Mu bukankah Hakim Semesta Bumi akan melakukan keadilan). Hallilah lekha — tidak mungkin bagi-Mu. Shofet kol ha'arets — Hakim Semesta Bumi. Ya'aseh mishpat — akan melakukan keadilan. Tiga kalimat yang membangun satu argumen: karakter-Mu tidak memungkinkan ketidakadilan.
Tahukah kamu
Hashofet kol ha'arets: 'Hakim Semesta Bumi' — gelar Allah yang muncul pertama kali di sini
Gelar 'Hakim Semesta Bumi' (shofet kol ha'arets) muncul pertama kali dalam Alkitab di 18:25 — dan diucapkan oleh Abraham, bukan oleh Allah sendiri. Ini adalah pengakuan teologis yang luar biasa: Abraham mengenali Allah bukan hanya sebagai Allah-nya secara pribadi atau Allah sukunya, tapi sebagai Hakim dari seluruh dunia. Gelar ini kemudian berkembang dalam Alkitab: Mazmur 94:2 'bangkitlah, Hai Hakim bumi'; Mazmur 58:12 'sungguh ada Allah yang menjadi Hakim di bumi'; Yesaya 33:22 'TUHAN adalah hakim kita, TUHAN adalah pembuat undang-undang kita, TUHAN adalah raja kita.' Abraham yang mengucapkan gelar ini pertama kali dalam dialog syafaat menetapkan preseden teologis yang fundamental: ada hakim yang adil atas seluruh bumi, dan keadilan adalah karakter-Nya.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Kejadian 18:25
Mazmur 94:2
Mazmur 94:2 menggunakan gelar 'Hakim bumi' (shofet ha'arets) yang pertama kali diucapkan Abraham di 18:25 ('shofet kol ha'arets') — pengakuan bahwa ada Hakim yang adil atas seluruh bumi; dari permohonan Abraham ke permohonan pemazmur, gelar yang sama digunakan untuk seruan keadilan
“Bangkitlah, Hakim bumi, balaskanlah kepada orang-orang congkak apa yang setimpal bagi mereka!”
Kejadian 19:29
hasil akhir dari dialog syafaat Abraham (18:23-32): Lot diselamatkan di 19:29 bukan karena keberhasilan Abraham mencapai angka minimum tapi karena 'Allah ingat akan Abraham' — TUHAN merespons syafaat Abraham secara personal
“Dan ketika Allah membinasakan kota-kota di Lembah itu, Ia ingat akan Abraham, lalu Ia melepaskan Lot dari tengah-tengah malapetaka ketika Ia membinasakan kota-kota tempat Lot diam.”
Roma 3:5-6
Paulus mengajukan dan menolak pertanyaan tentang ketidakadilan Allah dengan argumen yang sama dengan Abraham di 18:25 — jika Allah tidak adil, bagaimana Dia bisa menjadi Hakim dunia?; prinsip yang sama, konteks teologis yang berbeda
“Jika demikian, apakah Allah tidak adil kalau Ia menampakkan murka-Nya?... Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Kejadian 18:25
✕ Sering dikira
"Abraham sedang menguji Allah atau mencobai Allah dengan pertanyaan ini."
✓ Yang sebenarnya
Abraham menggunakan pengakuan tentang karakter Allah sebagai argumen dalam syafaat — bukan sebagai ujian atau provokasi. Ini adalah bentuk doa yang valid dalam Alkitab: memohon kepada Allah berdasarkan siapa Dia, bukan berdasarkan siapa kita. Musa melakukan hal yang sama di Kel. 32:11-13 ketika memohon untuk Israel.
✕ Sering dikira
"'Hakim Semesta Bumi' hanyalah ekspresi budaya kuno tanpa makna teologis."
✓ Yang sebenarnya
Ini adalah gelar yang pertama kali muncul dalam Alkitab di 18:25 dan kemudian diulang dalam Mazmur, Yesaya, dan tradisi profetik. Pengakuan bahwa Allah adalah Hakim bukan hanya atas satu bangsa tapi atas seluruh bumi adalah pernyataan teologis yang radikal dalam konteks dunia kuno yang penuh dengan dewa-dewa lokal.
Renungan
Renungan Singkat Kejadian 18:25
Apakah kita berani mempertanyakan keputusan Tuhan ketika terasa tidak adil? Seperti Abraham, kita bisa mendekati Tuhan dengan sikap hormat dan penuh keyakinan bahwa Dia selalu bertindak adil, bahkan ketika kita tidak memahaminya.
Tuhan, ajari aku untuk selalu percaya pada keadilan-Mu, bahkan saat aku tidak mengerti jalan-Mu. Amin.