Ulangan 25:7
“Akan tetapi, jika laki-laki itu tidak mau mengambil istri saudaranya maka istri saudaranya itu harus pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua dan berkata, “Saudara suamiku menolak mempertahankan nama saudaranya di Israel. Dia tidak mau melaksanakan tugas saudaranya kepadaku.””Ulangan 25:7 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku.”Ulangan 25:7 · TB
Terjemahan Baru
“Kalau orang itu tidak mau kawin dengan istri mendiang saudaranya, wanita itu harus pergi menghadap para pemuka kota dan berkata, 'Ipar saya tidak mau melakukan kewajibannya memberi kepada saudaranya seorang keturunan di antara bangsa Israel.'”Ulangan 25:7 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
““Namun, jika saudara dari almarhum tidak mau menikahi janda itu, maka janda itu harus melapor kepada sidang pemimpin kota, ‘Saudara almarhum suami saya menolak kewajibannya. Dia tidak mau menikahi saya demi melanjutkan keturunan bagi suami saya.’”Ulangan 25:7 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And if the man like not to take his brother’s wife, then let his brother’s wife go up to the gate unto the elders, and say, My husband’s brother refuseth to raise up unto his brother a name in Israel, he will not perform the duty of my husband’s brother.”Ulangan 25:7 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Ulangan 25:7?
Ayat ini menceritakan tentang hukum levirat, di mana jika seorang pria meninggal tanpa anak laki-laki, saudaranya harus menikahi jandanya untuk meneruskan nama dan warisan. Namun, jika saudara itu menolak, janda tersebut dapat mengadukannya kepada para tua-tua di pintu gerbang kota sebagai bentuk protes resmi.
Renungan
Renungan Singkat Ulangan 25:7
Hukum ini mengajarkan pentingnya menjaga nama dan kehormatan keluarga. Dalam konteks modern, kita bisa menerapkannya dengan tidak mengabaikan tanggung jawab kita terhadap anggota keluarga yang membutuhkan, terutama dalam hal dukungan moral dan praktis.
Tuhan, ajarlah aku untuk setia dalam tanggung jawab keluargaku, dan beri aku keberanian untuk memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas. Amin.