Sang Penyendiri yang Sibuk
Pengkhotbah 4:8
Kesendirian di Tengah Kekayaan
“Ada seseorang tanpa orang kedua. Dia pun tidak memiliki anak laki-laki ataupun saudara laki-laki. Namun, segala kerja kerasnya tidak ada akhirnya, dan matanya pun tidak pernah puas dengan kekayaan. “Untuk siapa aku bekerja keras dan menghilangkan kesenangan diri sendiri?” Ini pun kesia-siaan, dan ini adalah pekerjaan yang menyulitkan.”Pengkhotbah 4:8 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“ada seorang sendirian, ia tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah, matanyapun tidak puas dengan kekayaan; --untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? --Inipun kesia-siaan dan hal yang menyusahkan.”Pengkhotbah 4:8 · TB
Terjemahan Baru
“Ada orang yang hidup sebatang kara tanpa anak, atau pun saudara. Meskipun begitu, ia bekerja keras terus-menerus dan hatinya tak pernah puas dengan hartanya. Untuk siapakah ia memeras keringat dan menolak segala kesenangan? Itu pun sia-sia, dan suatu cara hidup yang sengsara.”Pengkhotbah 4:8 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Ada orang yang hidup sendiri tanpa anak dan saudara. Tanpa hentinya dia bekerja keras dan tidak pernah puas dengan hartanya. Orang itu berkata dalam hatinya, “Untuk apa aku tidak bersenang-senang dengan hasil jerih payahku? Waktu aku mati, tidak ada keluarga dekat yang akan mewarisi semua kekayaanku ini!” Betapa sia-sianya kehidupan itu! Sangat menyedihkan!”Pengkhotbah 4:8 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“There is one alone, and there is not a second; yea, he hath neither child nor brother: yet is there no end of all his labour; neither is his eye satisfied with riches; neither saith he, For whom do I labour, and bereave my soul of good? This is also vanity, yea, it is a sore travail.”Pengkhotbah 4:8 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Pengkhotbah 4:8?
Ayat ini menggambarkan orang yang kesepian dan tidak pernah puas dengan kekayaannya. Ia bekerja keras tanpa henti, tetapi tidak memiliki keluarga atau teman untuk berbagi. Pertanyaan retoris 'Untuk siapa aku bekerja keras?' menegaskan bahwa kehidupan yang hanya fokus pada akumulasi harta tanpa hubungan yang berarti adalah kesia-siaan dan pekerjaan yang menyulitkan.
Latar belakang
Kesendirian yang Tak Berujung
Pengkhotbah menggambarkan seorang yang hidup sendirian: tidak punya anak atau saudara, tetapi terus bekerja tanpa henti dan matanya tidak pernah puas dengan kekayaan. Ia bertanya 'Untuk siapa aku bekerja keras?' tetapi tidak ada siapa-siapa, sia-sia dan pekerjaan yang menyusahkan.
Di mana
Yerusalem
Pengamatan kontemplatif di istana
Kapan
~950 SM
Kerajaan Israel Bersatu
Yang berbicara
Pengkhotbah
Pengkhotbah, hikmat pengalaman, ~950 SM
Kepada
Pembaca
Pencari hikmah di segala zaman
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
אַחֵר
acher · orang kedua
lain, berbeda; menunjukkan keberadaan orang lain sebagai pembanding
בָּעַל
ba'al · menghilangkan
memiliki, menguasai; dalam konteks ini, memiskinkan diri dari kesenangan
רָע
ra' · menyulitkan
buruk, jahat, menyusahkan; menunjukkan hal yang tidak menyenangkan
Kata 'acher' (orang kedua) menekankan pentingnya relasi; 'ba'al' menunjukkan bahwa orang itu tidak 'memiliki' kesenangan, dan 'ra' menggambarkan pekerjaan yang tidak baik akibat kesendirian—pekerjaan yang seharusnya baik menjadi buruk.
Tahukah kamu
Pertanyaan Retoris untuk Diri Sendiri
Frasa 'Untuk siapa aku bekerja keras?' adalah pertanyaan retoris yang mengungkapkan kebingungan batin; dalam bahasa Ibrani, pertanyaan ini menekankan ketiadaan tujuan yang jelas.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Pengkhotbah 4:8
Kejadian 2:18
Tidak baik sendiri
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”
Amsal 15:17
Kebersamaan lebih baik
“Lebih baik makan sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.”
Pengkhotbah 6:3
Ketidakpuasan tanpa makna
“Jika seseorang mendapat seratus anak dan hidup lama, tetapi tidak puas dengan kebaikan, ...”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Pengkhotbah 4:8
✕ Sering dikira
Orang ini malas karena tidak punya keluarga; dia seharusnya bekerja lebih keras.
✓ Yang sebenarnya
Justru dia bekerja sangat keras, tetapi tanpa orang terkasih, pekerjaannya menjadi sia-sia. Ayat ini bukan tentang kemalasan.
✕ Sering dikira
Kekayaan dan banyak anak adalah jaminan kebahagiaan.
✓ Yang sebenarnya
Pengkhotbah menunjukkan bahwa kekayaan tanpa relasi tetap sia-sia; kebahagiaan tidak dijamin oleh hal-hal itu.
Renungan
Renungan Singkat Pengkhotbah 4:8
Sadarilah bahwa memiliki orang-orang terkasih jauh lebih berharga daripada menumpuk harta. Jangan biarkan dirimu terisolasi dalam kesibukanmu. Luangkan waktu untuk membangun hubungan, karena di situlah makna hidup yang sejati.
Ya Bapa, lepaskan aku dari keserakahan dan kesepian, dan bantu aku untuk menghargai kehadiran orang-orang di sekitarku. Amin.