Mengapa Hikmat Sia-sia?

Pengkhotbah 2:15

Kesia-siaan Hikmat

Lalu, aku berkata dalam hatiku, “Nasib orang bodoh juga akan menimpa aku. Mengapa selama ini aku begitu berhikmat?” Lalu, aku berkata dalam hatiku bahwa ini pun kesia-siaan.

Pengkhotbah 2:15 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Pengkhotbah 2:15?

Pengkhotbah menyadari bahwa nasib orang bodoh, yaitu kematian, akan menimpanya juga. Ia merasa sia-sia memiliki hikmat karena toh ia akan mati juga. Ini menunjukkan kekecewaan manusia ketika menyadari keterbatasan hikmat di hadapan maut.

Latar belakang

Pertanyaan Sia-sia

Pengkhotbah bergumul: jika orang bijak dan bodoh bernasib sama, apa gunanya berhikmat? Ia menyimpulkan semua sia-sia.

Di mana

Yerusalem

Di istana, merenung

Kapan

~935 SM

Kerajaan Bersatu

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Melihat nasib sama
Membenci kehidupan
Kamu di sini
P

Yang berbicara

Pengkhotbah

Raja bijak, ~50 tahun, penulis

P

Kepada

Pembaca

Orang yang bergumul dengan tujuan hidup

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

לִבִּי

libbi · hatiku

hati, pusat pemikiran dan emosi

מִקְרֶה

miqreh · nasib

kejadian, nasib, kebetulan

הֶבֶל

hevel · kesia-siaan

uap, nafas, tidak berarti

Merenungkan nasib yang sama membuat hati bertanya-tanya. Hikmat pun terasa seperti uap yang cepat hilang, menunjukkan kefanaan semua usaha.

Tahukah kamu

Mengapa Aku Begitu Berhikmat?

Frasa ini bisa bernada penyesalan, seolah hikmat tidak memberi keuntungan abadi.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Pengkhotbah 2:15

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Pengkhotbah 2:15

✕  Sering dikira

Hikmat tidak berguna sama sekali.

✓  Yang sebenarnya

Pengkhotbah tidak menyangkal nilai hikmat, hanya mengakui keterbatasannya.

✕  Sering dikira

Ayat ini menyuruh kita putus asa.

✓  Yang sebenarnya

Justru mengundang kita mencari makna di luar hal duniawi.

Renungan

Renungan Singkat Pengkhotbah 2:15

Ketika kita menyadari bahwa semua usaha kita tidak bisa mengalahkan kematian, kita mungkin merasa putus asa. Tetapi iman kita memberi pengharapan: kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal.

Tuhan, ketika aku dihadapkan pada kefanaan hidup, ingatkan aku bahwa Engkau telah bangkit dan memberi kuasa atas maut. Amin.