Mazmur penutup sebelum taman yang gelap
Markus 14:26
Malam Tergelap Sebelum Fajar
“Setelah menyanyikan pujian mazmur, mereka pergi ke Bukit Zaitun.”Markus 14:26 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.”Markus 14:26 · TB
Terjemahan Baru
“Kemudian mereka menyanyikan sebuah nyanyian pujian. Dan sesudah itu mereka pergi ke Bukit Zaitun.”Markus 14:26 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Sesudah menyanyikan sebuah lagu pujian kepada Allah, Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke Bukit Zaitun.”Markus 14:26 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And when they had sung an hymn, they went out into the mount of Olives.”Markus 14:26 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Markus 14:26?
Setelah perjamuan, Yesus dan murid-murid menyanyikan pujian mazmur, lalu pergi ke Bukit Zaitun. Tindakan ini menunjukkan bahwa Yesus tetap memuji Allah bahkan menjelang penderitaan, dan memberi teladan untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan.
Latar belakang
Lagu sebelum badai
Menyanyikan pujian mazmur adalah bagian wajib dari Seder Paskah. Mazmur 115-118 (Hallel Akhir) dinyanyikan di akhir perjamuan. Mazmur 118 berakhir dengan: 'Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya!' — lagu itu dilagukan Yesus dan murid-murid sebelum berjalan ke Getsemani. Bayangkan suara nyanyian yang memudar ke dalam kegelapan malam.
Di mana
Yerusalem → Bukit Zaitun
Keluar dari ruang atas menuju malam gelap
Kapan
~30 M
Akhir perjamuan Paskah, sekitar tengah malam
Yang berbicara
Markus (narasi)
yang mencatat tindakan terakhir sebelum Getsemani
Kepada
Pembaca Injil
yang perlu merasakan jeda antara perjamuan dan taman doa
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
ὑμνήσαντες
hymnēsantes · pujian mazmur
Menyanyikan himne atau pujian — dari sinilah kata 'hymn' (himne) berasal. Ini bukan nyanyian spontan tapi himne liturgis yang sudah diketahui semua orang.
ἐξῆλθον
exēlthon · pergi
Keluar atau berangkat — kata yang sama dipakai untuk 'keluar dari Mesir'. Ironi: malam Paskah adalah malam Israel keluar dari perbudakan; malam ini Yesus keluar menuju penderitaan-Nya.
Ἐλαιῶν
Elaiōn · Bukit Zaitun
Bukit Zaitun — dari kata 'elaia' (pohon zaitun). Tempat yang sudah sering mereka kunjungi; Yudas tahu di mana mencari Yesus karena itu tempat kebiasaan mereka.
'Hymnēsantes' (menyanyikan pujian) sebelum 'exēlthon' (pergi keluar) — Yesus memasuki penderitaan terberat-Nya dengan pujian di bibir. Ini bukan keberanian heroik tapi kepercayaan yang mendalam.
Tahukah kamu
Mazmur 118 dan tangan yang merentang
Mazmur 118:27 berkata 'Ikatlah perarakan itu dengan tali sampai ke tanduk-tanduk mezbah.' Versi Ibrani memakai kata yang juga bisa dibaca sebagai 'ikatlah korban dengan tali.' Para penafsir Kristen awal melihat ini sebagai bayangan Kristus yang 'diikat' ke salib. Yesus menyanyikan ini beberapa jam sebelum penyaliban-Nya.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Markus 14:26
Mazmur 118:14
Mazmur yang kemungkinan dinyanyikan malam itu sebelum Getsemani
“Tuhan itu kekuatanku dan nyanyianku; Ia telah menjadi keselamatanku.”
Mazmur 22:3
Allah bersemayam di atas pujian — Yesus memuji sebelum menanggung dosa
“Engkau kudus dan bersemayam di atas puji-pujian Israel.”
Kisah Para Rasul 16:25
pola yang sama: memuji di tengah penderitaan
“Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Markus 14:26
✕ Sering dikira
Menyanyikan mazmur menunjukkan Yesus tidak sadar betapa beratnya yang akan dihadapi
✓ Yang sebenarnya
Justru sebaliknya — Yesus sangat sadar (ayat 34 menunjukkan kesedihan yang mendalam di Getsemani). Nyanyian pujian-Nya adalah ekspresi kepercayaan di tengah pengetahuan penuh tentang penderitaan yang akan datang.
✕ Sering dikira
Bukit Zaitun dipilih Yesus secara acak malam itu
✓ Yang sebenarnya
Yohanes 18:2 mencatat Yudas tahu tempat itu karena 'Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.' Yesus pergi ke tempat biasa — tidak bersembunyi.
Renungan
Renungan Singkat Markus 14:26
Ketika menghadapi masa sulit, kita bisa belajar dari Yesus yang tetap memuji Bapa. Nyanyian pujian bisa menjadi kekuatan dan penghiburan, membantu kita tetap fokus pada kebaikan Allah di tengah badai.
Bapa, ajarku untuk tetap memuji-Mu bahkan ketika jalanku sulit. Amin.