Terbakar oleh Matahari
Kidung Agung 1:6
Nyanyian Cinta yang Penuh Rindu
PerikopPengantin Perempuan dan Putri-Putri Yerusalem · Kidung Agung 1:2-17 →“Jangan memandangiku karena aku hitam, karena matahari telah menatapku. Putra-putra ibuku marah kepadaku. Mereka menjadikanku penjaga kebun-kebun anggur, tetapi kebun anggurku sendiri tidak kujaga.”Kidung Agung 1:6 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka Kidung Agung 1.7–12 2 penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.”Kidung Agung 1:6 · TB
Terjemahan Baru
“Jangan perhatikan kulitku yang hitam, sebab aku terbakar sinar matahari. Abang-abangku marah kepadaku, dan menyuruh aku bekerja di kebun anggur; aku tiada waktu mengurus diriku sendiri.”Kidung Agung 1:6 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Look not upon me, because I am black, because the sun hath looked upon me: my mother’s children were angry with me; they made me the keeper of the vineyards; but mine own vineyard have I not kept.”Kidung Agung 1:6 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Kidung Agung 1:6?
Mempelai wanita menjelaskan bahwa kulitnya menjadi hitam karena tugas menjaga kebun anggur, sementara kebun anggurnya sendiri (diri atau kehidupan pribadinya) terbengkalai. Ini bisa berarti ia sibuk mengurus orang lain sampai melupakan diri sendiri.
Latar belakang
Alasan di Balik Kulit Gelap
Sang perempuan menjelaskan bahwa kulitnya hitam karena ia bekerja di bawah terik matahari, dipaksa oleh saudara-saudaranya. Ia menjaga kebun anggur mereka, tetapi mengabaikan kebun anggurnya sendiri—mungkin metafora untuk dirinya sendiri yang tidak terurus.
Di mana
Kebun-kebun anggur
Ladang yang panas, dekat Yerusalem
Kapan
~950 SM
Zaman Kerajaan Bersatu
Yang berbicara
Sang Kekasih (si perempuan)
Wanita muda, berkulit gelap, penjaga kebun anggur.
Kepada
Putri-putri Yerusalem
Wanita-wanita kota yang menilai penampilannya.
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
שֶׁמֶשׁ
shemesh · matahari
matahari, sinar yang menyengat
חָזָה
chazah · memandang
memandang, melihat dengan tajam
נָטַר
natar · menjaga
menjaga, memelihara
Matahari 'memandang' dia dengan tegas, melukai kulitnya, sementara ia 'menjaga' kebun orang lain tetapi melupakan dirinya. Ini menunjukkan pengorbanan dan pengabaian diri yang bisa terjadi karena tuntutan orang lain.
Tahukah kamu
Kebun Anggur sebagai Metafora
Dalam sastra Timur Tengah kuno, kebun anggur sering melambangkan cinta dan kesuburan. Di sini, 'kebun anggur sendiri' bisa merujuk pada tubuh atau kehidupan pribadinya.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Kidung Agung 1:6
Kejadian 3:17-19
kerja keras dan kesulitan
“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezeki.”
Matius 26:13
pengorbanan perempuan
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan, apa yang dilakukan perempuan ini akan diceritakan.”
Yesaya 5:1-2
kebun anggur dan pemeliharaan
“Kekasihku mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Kidung Agung 1:6
✕ Sering dikira
Ayat ini mengajarkan bahwa bekerja di bawah matahari adalah kutukan.
✓ Yang sebenarnya
Konotasinya bukan kutukan, tetapi realitas hidup dan pengorbanan yang dihadapi wanita ini.
✕ Sering dikira
Saudara laki-lakinya di sini berarti saudara kandung yang kejam.
✓ Yang sebenarnya
Bisa berarti saudara tiri atau kerabat yang menuntut, tetapi tidak selalu kejam; mungkin hanya praktik umum.
Renungan
Renungan Singkat Kidung Agung 1:6
Sering kita terlalu sibuk melayani atau memenuhi harapan orang lain sehingga mengabaikan kebutuhan rohani dan emosional kita sendiri. Penting untuk merawat diri sendiri dan menjaga hati kita, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Tuhan, ajari aku untuk tidak melupakan diri sendiri saat melayani; beri aku keseimbangan dan kekuatan untuk menjaga diriku. Amin.