Bildad Menjawab Ayub
Ayub 25:1-6
Tidak Seorang pun Benar di Hadapan Allah
Alkitab Yang Terbuka (AYT) · ketuk nomor ayat untuk arti & konteksnya
Latar belakang
Bildad Angkat Bicara
Ayub telah menderita dan teman-temannya datang menghibur. Setelah percakapan panjang di mana Ayub mempertanyakan keadilan Allah, Bildad kini menjawab dengan tegas, menekankan kebesaran Allah dan keniscayaan kehinaan manusia di hadapan-Nya.
Di mana
Tanah Us
Di tempat pembuangan abu, setelah Ayub dilanda musibah
Kapan
~2000 SM (periode patriarkal)
Kisah Ayub
Yang berbicara
Bildad, orang Suah
Sahabat Ayub, pembela tradisi, tegas
Kepada
Ayub dan kawan-kawan
Ayub yang menderita, Elifas dan Zofar hadir
Arti tiap ayat
Penjelasan Ayub 25:1-6 Ayat per Ayat
Ayub 25:1
Bildad, salah satu sahabat Ayub, mulai berbicara lagi. Ia menekankan bahwa Allah memiliki kekuasaan yang dahsyat dan mulia, sehingga manusia tidak layak untuk mempertanyakan keadilan-Nya.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Ayub 25:2
Bildad menyatakan bahwa Allah membawa damai di tempat yang tinggi, yaitu di surga. Ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas seluruh alam semesta dan mampu menciptakan ketertiban dan keharmonisan.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Ayub 25:3
Bildad menegaskan bahwa pasukan Allah tidak dapat dihitung dan terang-Nya menyinari segala sesuatu. Ini melukiskan kebesaran dan kemuliaan Allah yang tak terbatas, yang jauh melampaui pemahaman manusia.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Ayub 25:4
Bildad mempertanyakan bagaimana manusia, yang lahir dari perempuan, bisa dianggap benar atau suci di hadapan Allah. Ini menunjukkan bahwa manusia secara alami tidak sempurna dan tidak layak di hadapan Allah yang kudus.
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Ayub 25:5
Bildad berkata bahwa bahkan bulan dan bintang-bintang tidak bersinar terang dan tidak suci di mata Allah. Ini menekankan kesucian Allah yang mutlak, sehingga makhluk ciptaan yang paling mulia pun tidak bisa…
Arti lengkap, studi kata & renungan →
Ayub 25:6
Bildad menyimpulkan bahwa manusia itu seperti belatung dan cacing, sangat rendah dan hina. Ini menunjukkan betapa kecil dan tidak berartinya manusia jika dibandingkan dengan kebesaran Allah.
Arti lengkap, studi kata & renungan →