2 Raja-raja 15:25
“Lalu, Pekah, anak Remalya, perwiranya, bersekongkol untuk melawannya dan membunuhnya di Samaria, di puri istana raja. Bersamanya ada Argob dan Arye, serta lima puluh orang dari keturunan Gilead. Setelah membunuhnya, dia memerintah sebagai penggantinya.”2 Raja-raja 15:25 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Lalu perwiranya, yakni Pekah bin Remalya, mengadakan persepakatan melawan dia dan membunuh dia di Samaria di puri istana raja; beserta dia ada Argob dan Arye serta lima puluh orang dari bani Gilead; dibunuhnyalah Pekahya, kemudian menjadi raja menggantikan dia.”2 Raja-raja 15:25 · TB
Terjemahan Baru
“Salah seorang dari para perwiranya, yaitu Pekah anak Remalya, berkomplot dengan 50 orang dari Gilead. Lalu dalam sebuah benteng di istana di Samaria mereka membunuh Pekahya bersama dua orang lainnya yang bernama Argob dan Arye. Kemudian Pekah menjadi raja menggantikan Pekahya.”2 Raja-raja 15:25 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Suatu kali, panglima tentara Israel bernama Pekah anak Remalya bersekongkol dengan lima puluh pasukannya dari wilayah Gilead untuk menyingkirkan Pekahya. Raja pun dibunuh di istananya di Samaria. Argob dan Arye, yang saat itu sedang bersama raja, juga ikut terbunuh. Sesudah itu Pekah menggantikan dia menjadi raja Israel.”2 Raja-raja 15:25 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“But Pekah the son of Remaliah, a captain of his, conspired against him, and smote him in Samaria, in the palace of the king’s house, with Argob and Arieh, and with him fifty men of the Gileadites: and he killed him, and reigned in his room.”2 Raja-raja 15:25 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti 2 Raja-raja 15:25?
Pekah, seorang perwira Israel, bersekongkol melawan raja Pekahya, membunuhnya di istana di Samaria bersama dengan Argob dan Arye serta 50 orang dari Gilead, lalu menggantikannya sebagai raja. Ini menunjukkan kekacauan politik dan pengkhianatan yang sering terjadi di Kerajaan Utara.
Renungan
Renungan Singkat 2 Raja-raja 15:25
Ambisi bisa membuat orang menghalalkan segala cara, bahkan membunuh untuk merebut kekuasaan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita pernah mengorbankan integritas demi keuntungan pribadi? Mari belajar mempercayakan hidup dan karier kita kepada Tuhan, bukan pada intrik.
Tuhan, jauhkan aku dari ambisi yang merusak, dan ajari aku untuk memimpin dengan rendah hati dan jujur, Amin.