Bahasa Ibrani

Amin אָמֵן

Sungguh, biarlah terjadi — kata persetujuan iman yang menutup doa sejak zaman Israel kuno.

Apa Arti Amin?

Kata 'Amin' sebenarnya lebih dari sekadar penutup doa; ini adalah kata Ibrani yang bermakna 'sungguh benar' atau 'biarlah terjadi', di mana seseorang menyatakan persetujuan penuh terhadap apa yang baru saja diucapkan atau didengar. Dalam bahasa Indonesia, kita sering menerjemahkannya sebagai 'Amin' tanpa menangkap bobot pengakuan iman yang terkandung di dalamnya—seperti menempelkan stempel 'ya' pada sebuah pernyataan. Di 1 Tawarikh 16:36, seluruh umat menjawab 'Amin' sebagai respons bersama, bukan sekadar formalitas, melainkan deklarasi aktif bahwa mereka setuju dan setia pada pujian kepada Allah. Lalu di 2 Korintus 1:20, Paulus menjelaskan bahwa semua janji Allah sudah berwujud 'ya' dalam Kristus, dan 'Amin' kita adalah cara kita mengaminkan karya-Nya—menegaskan bahwa kita percaya janji itu pasti digenapi. Di Wahyu 22:20, 'Amin' menjadi seruan kerinduan eskatologis, di mana Yohanes mengaminkan janji kedatangan Yesus dengan harapan yang membara, bukan sekadar penutup liturgi. Jadi, setiap kali kita mengucap 'Amin', kita sebenarnya sedang mengambil bagian dalam tradisi iman yang sangat konkret: mengikat diri pada kebenaran yang kita nyatakan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.

Ayat-Ayat dengan Kata Amin

  1. 1 Tawarikh 16:36

    Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Seluruh umat berkata, “Amin,” dan memuji TUHAN.
    Lihat arti & konteks 1 Tawarikh 16:36
  2. 2 Korintus 1:20

    Sebab, semua janji Allah adalah “ya” di dalam Kristus. Itulah sebabnya, melalui Dia, kami mengucapkan “Amin” kami untuk kemuliaan Allah.
    Lihat arti & konteks 2 Korintus 1:20
  3. Wahyu 22:20

    Ia yang bersaksi mengenai hal-hal ini berkata, “Ya, Aku segera datang.” Amin! Datanglah, Tuhan Yesus!
    Lihat arti & konteks Wahyu 22:20

Kata terkait