Aib yang tidak terpikirkan
Ratapan 1:9
Ratapan atas Yerusalem yang hancur
“Kenajisannya ada pada pakaiannya; Ia tidak memikirkan akhirnya. Karena itu, kejatuhannya luar biasa. Ia tidak memiliki penghibur. “Ya TUHAN, lihatlah penderitaanku, karena musuh telah meninggikan diri!””Ratapan 1:9 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Kenajisannya melekat pada ujung kainnya; ia tak berpikir akan akhirnya, Ratapan 1.10–13 3 sangatlah dalam ia jatuh, tiada orang yang menghiburnya. "Ya, TUHAN, lihatlah sengsaraku, karena si seteru membesarkan dirinya!"”Ratapan 1:9 · TB
Terjemahan Baru
“Kenajisannya nampak dengan nyata tapi ia tak menghiraukan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Sangat hebat keruntuhannya, tapi tak seorang pun menghibur dia. Maka ia memohon belas kasihan dari TUHAN, karena musuh-musuhnya telah menang.”Ratapan 1:9 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Her filthiness is in her skirts; she remembereth not her last end; therefore she came down wonderfully: she had no comforter. O LORD, behold my affliction: for the enemy hath magnified himself.”Ratapan 1:9 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Ratapan 1:9?
Ayat ini menunjukkan bahwa Yerusalem menolak untuk memikirkan akhirnya atau konsekuensi dari dosanya. Kenajisannya melekat pada pakaiannya, dan kejatuhannya sangat dahsyat karena tidak ada yang menghibur. Di tengah penderitaan, ia berteriak memohon Tuhan melihat penderitaannya, karena musuh telah meninggikan diri.
Latar belakang
Hidup dalam aib tanpa berpikir panjang
Yerusalem menyadari bahwa kenajisannya melekat pada dirinya, namun ia tidak memikirkan akhirnya—yaitu kehancuran yang akan datang. Kejatuhannya sangat dahsyat, dan tak ada yang menghibur. Ia berseru minta Tuhan melihat penderitaannya, karena musuh-musuhnya meninggikan diri.
Di mana
Yerusalem (reruntuhan)
Di antara puing-puing kota, siang hari
Kapan
~586 SM
Kehancuran Yerusalem
Yang berbicara
Yerusalem (personifikasi)
Kota yang bersedih, mewakili umat yang menderita
Kepada
TUHAN dan para pengamat
Siapa saja yang melihat penderitaan kota
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
טֻמְאָה
tum'ah · kenajisannya
Keadaan najis secara ritual, yang membuat tidak layak untuk ibadah.
אַחֲרִית
acharit · akhirnya
Akhir, masa depan, atau konsekuensi akhir.
עֳנִי
oni · penderitaanku
Kesusahan, penderitaan, atau penindasan.
Memikirkan 'akhir' (akibat) adalah hal yang seharusnya dilakukan, tetapi Yerusalem mengabaikannya; kini penderitaan akibat dosa menjadi nyata, dan ia hanya bisa memohon belas kasihan.
Tahukah kamu
Ungkapan 'kenajisan pada ujung jubah'
Frasa 'kenajisan pada ujung jubah' bisa merujuk pada kebiasaan membuang kotoran atau darah menstruasi di ujung pakaian, yang dianggap najis secara ritual. Ini menggambarkan betapa kotornya keadaan Yerusalem.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Ratapan 1:9
Ulangan 32:29
memikirkan akhir
“Sekiranya mereka bijaksana, mereka akan memikirkan akhir mereka.”
Yesaya 47:7
tidak memikirkan akhir
“Engkau berkata: 'Untuk seterusnya aku menjadi ratu!' tetapi engkau tidak memikirkan semuanya itu atau mengingat akhirnya.”
Ratapan 1:2
penderitaan berkepanjangan
“Ia menangis getir sepanjang malam, air matanya bercucuran di pipinya.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Ratapan 1:9
✕ Sering dikira
Ayat ini berarti Yerusalem tidak pernah diberi kesempatan untuk bertobat.
✓ Yang sebenarnya
Kenajisan menunjukkan kegagalan untuk bertobat, tetapi seruan minta tolong menunjukkan kesadaran dan harapan akan kasih Tuhan.
✕ Sering dikira
Penderitaan yang dialami Yerusalem adalah takdir yang tidak bisa dihindari.
✓ Yang sebenarnya
Penderitaan adalah akibat dari dosa, bukan takdir; ada panggilan untuk bertobat dan bergantung pada Tuhan.
Renungan
Renungan Singkat Ratapan 1:9
Sering kali kita hidup tanpa memikirkan akibat jangka panjang dari keputusan kita. Ayat ini mengajak kita untuk bijaksana: merenungkan arah hidup kita sebelum terlambat. Jangan menunggu kehancuran untuk berbalik kepada Tuhan.
Bapa, beri aku hikmat untuk selalu memikirkan akhir dari setiap tindakanku, dan jauhkan aku dari kebutaan rohani. Amin.