Menjaga langkah menuju rumah Allah
Pengkhotbah 5:1
Ibadah yang berkenan dan bahaya kekayaan
“(4-17) Awasilah kakimu ketika kamu pergi ke rumah Allah. Mendekatlah untuk mendengarkan daripada memberikan kurban orang-orang bodoh. Sebab, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang melakukan kejahatan.”Pengkhotbah 5:1 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“(4-17) Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.”Pengkhotbah 5:1 · TB
Terjemahan Baru
“(4-17) Berhati-hatilah kalau mau pergi ke Rumah TUHAN. Lebih baik pergi ke situ untuk belajar daripada untuk mempersembahkan kurban, seperti yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Mereka itu tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”Pengkhotbah 5:1 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Ketika pergi ke rumah TUHAN, dengarkanlah apa yang diajarkan dan perhatikanlah baik-baik apa yang harus kamu lakukan. Jangan berbuat seperti orang bebal, yang hanya mempersembahkan kurban kepada TUHAN tanpa mengetahui arti dari persembahan itu. Dengan demikian, tanpa sadar mereka melakukan kejahatan. Lebih baik mendengar ajaran di rumah TUHAN daripada memberikan persembahan seperti orang bebal.”Pengkhotbah 5:1 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“Keep thy foot when thou goest to the house of God, and be more ready to hear, than to give the sacrifice of fools: for they consider not that they do evil.”Pengkhotbah 5:1 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Pengkhotbah 5:1?
Ayat ini mengingatkan kita untuk mendekat kepada Allah dengan sikap rendah hati dan siap mendengarkan, bukan sekadar mempersembahkan ritual atau korban yang dilakukan tanpa pengertian. Orang bodoh di sini adalah mereka yang bertindak tanpa kesadaran akan kebenaran Allah.
Latar belakang
Hati-hati saat beribadah
Pengkhotbah menasihati agar orang datang ke rumah Allah dengan sikap hormat dan siap mendengar, bukan sekadar membawa kurban. Ibadah yang benar dimulai dengan kerendahan hati untuk belajar, bukan ritual kosong.
Di mana
Yerusalem
Di pelataran bait Allah, di dekat altar
Kapan
~950 SM
Era Kerajaan Bersatu
Yang berbicara
Pengkhotbah
Orang bijak yang merenungkan makna hidup, mungkin raja Salomo
Kepada
Jemaat Israel
Orang-orang yang beribadah di bait Allah dan bergumul dengan kesia-siaan
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
שָׁמַר
shamar · Awasilah
menjaga, memelihara, memperhatikan dengan seksama
זֶבַח
zebach · kurban
korban sembelihan, persembahan
כְּסִיל
kesil · bodoh
orang bebal, yang menolak didikan
Kata shamar mengingatkan bahwa ibadah memerlukan kesadaran penuh. Zebach ritual tanpa pengertian sama dengan kebodohan; Allah lebih menginginkan hati yang taat daripada persembahan asal-asalan.
Tahukah kamu
Awasilah kakimu
Frasa 'awasilah kakimu' mungkin merujuk pada kebiasaan melepas alas kaki di tempat kudus, seperti yang dilakukan Musa di semak yang menyala.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Pengkhotbah 5:1
1 Samuel 15:22
Ketaatan lebih utama
“Apakah TUHAN senang kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN?”
Amsal 21:3
Ibadah yang benar
“Melakukan keadilan dan kebenaran lebih berkenan kepada TUHAN daripada kurban.”
Mazmur 15:1-2
Syarat mendekat
“TUHAN, siapa yang menumpang di kemah-Mu? Yaitu orang yang berlaku tidak bercela dan melakukan keadilan.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Pengkhotbah 5:1
✕ Sering dikira
Anggapan bahwa ayat ini melarang memberi persembahan sama sekali.
✓ Yang sebenarnya
Ayat ini bukan melarang kurban, melainkan menekankan bahwa mendengarkan Allah lebih penting daripada sekadar ritual.
✕ Sering dikira
Mengira 'orang bodoh' di sini adalah orang yang tidak berpendidikan.
✓ Yang sebenarnya
Dalam konteks ini, 'bodoh' berarti orang yang tidak menghormati Allah dan beribadah dengan cara yang tidak benar.
Renungan
Renungan Singkat Pengkhotbah 5:1
Sebelum beribadah atau berdoa, luangkan waktu untuk menenangkan hati dan benar-benar ingin mendengar suara Tuhan. Jangan hanya terburu-buru menyelesaikan ritual tanpa mengalami kehadiran-Nya.
Tuhan, mampukan aku untuk mendekat kepada-Mu dengan hati yang siap mendengar, bukan hanya sekadar melakukan kewajiban. Amin.