Penangkapan Tanpa Kekerasan
Kisah Para Rasul 5:26
Dusta, Mujizat, dan Keberanian Rasul
“Lalu, kepala penjaga Bait Allah beserta pengawalnya pergi dan membawa rasul-rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan karena mereka takut dilempari batu oleh orang banyak.”Kisah Para Rasul 5:26 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Maka pergilah kepala pengawal serta orang-orangnya ke Bait Allah, lalu mengambil kedua rasul itu, tetapi tidak dengan kekerasan, karena mereka takut, kalau-kalau orang banyak melempari mereka. Kisah Para Rasul 5.27–32 28”Kisah Para Rasul 5:26 · TB
Terjemahan Baru
“Maka perwira pengawal Rumah Tuhan itu bersama pengawal-pengawalnya pergi mengambil rasul-rasul itu kembali. Tetapi mereka tidak memakai kekerasan, sebab mereka takut kepada orang banyak; jangan-jangan orang banyak itu nanti melempari mereka dengan batu.”Kisah Para Rasul 5:26 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Maka kepala pengawal rumah Allah bersama anak buahnya pergi dan membawa kembali rasul-rasul itu. Tetapi mereka tidak menggunakan kekerasan karena takut kepada orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaran para rasul. Jangan sampai orang-orang itu marah lalu melempari mereka dengan batu.”Kisah Para Rasul 5:26 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“Then went the captain with the officers, and brought them without violence: for they feared the people, lest they should have been stoned.”Kisah Para Rasul 5:26 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Kisah Para Rasul 5:26?
Kisah Para Rasul 5:26 menggambarkan kepala Bait Allah dan pengawalnya membawa rasul-rasul tanpa kekerasan karena takut kepada orang banyak. Ini menunjukkan bahwa reputasi dan dukungan orang banyak bisa menjadi perlindungan bagi para rasul.
Latar belakang
Penjaga yang Takut pada Orang Banyak
Kepala penjaga pergi sendiri dengan pengawalnya untuk membawa para rasul, tapi mereka sangat berhati-hati. Alasannya mengejutkan: mereka takut dilempari batu oleh orang banyak. Otoritas agama yang seharusnya ditakuti malah harus takut pada reaksi publik.
Di mana
Bait Allah dan Serambi Salomo, Yerusalem
Area publik Bait Allah
Kapan
~30 M
Konflik gereja dan otoritas agama
Yang berbicara
Lukas (narator)
Tabib dan penulis Kisah Para Rasul
Kepada
Pembaca Kisah Para Rasul
Orang percaya generasi awal
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
οὐ μετὰ βίας
tidak dengan kekerasan · without violence
Penolakan eksplisit terhadap cara paksa
ἐφοβοῦντο
takut · feared
Imperfek — ketakutan yang terus-menerus ada dalam pikiran mereka
λιθασθῶσιν
dilempari batu · stoned
Aorist pasif subjunktif — kemungkinan yang mereka hindari
Ironi kekuasaan: otoritas yang mengendalikan Bait Allah justru harus bergerak dengan 'tidak kekerasan' (οὐ μετὰ βίας) karena takut pada orang biasa. Popularitas para rasul adalah perlindungan tidak langsung.
Tahukah kamu
Batu dalam Konteks Yahudi
Lemparan batu (lapidasi) adalah hukuman Yahudi untuk penghujatan. Jika orang banyak melempari penjaga, itu berarti orang banyak menganggap tindakan menangkap para rasul adalah 'penghujatan' terhadap karya Allah.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Kisah Para Rasul 5:26
Lukas 20:19
Pola yang sama: otoritas takut reaksi publik
“Para ahli Taurat dan imam kepala ingin menangkap Yesus saat itu juga, tetapi mereka takut kepada orang banyak.”
Yohanes 7:44-46
Perlindungan ilahi melalui simpati orang banyak
“Beberapa dari mereka ingin menangkap Yesus, tetapi tidak ada yang berani menyentuh-Nya.”
Kisah Para Rasul 21:36
Kontras — suatu saat nanti orang banyak justru berbalik melawan Paulus
“Orang banyak mengikut sambil berteriak: bunuh dia!”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Kisah Para Rasul 5:26
✕ Sering dikira
Penjaga bersikap sopan karena menghormati para rasul
✓ Yang sebenarnya
Mereka tidak kekerasan karena takut pada reaksi orang banyak, bukan karena menghormati rasul
✕ Sering dikira
Orang banyak siap melempari batu para rasul
✓ Yang sebenarnya
Orang banyak memuliakan para rasul — justru penjagalah yang takut dilempari batu
Renungan
Renungan Singkat Kisah Para Rasul 5:26
Kadang Tuhan memakai dukungan orang lain untuk melindungi kita. Tetaplah hidup benar dan rendah hati, karena hal itu bisa membentuk opini publik yang positif bagi pekerjaan Tuhan.
Tuhan, ajari kami untuk hidup dengan bijak dan rendah hati, sehingga orang lain melihat kebaikan-Mu melalui kami. Amin.