Hakim-hakim 14:18
“Pada hari ketujuh, orang-orang kota itu berkata kepadanya, sebelum terbenamnya matahari, “Apa yang lebih manis daripada madu? Apa yang lebih kuat daripada singa?” Dia berkata kepada mereka, “Seandainya kamu tidak membajak dengan sapi betinaku, kamu tidak dapat menjawab teka-tekiku.””Hakim-hakim 14:18 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Lalu pada hari yang ketujuh itu, sebelum matahari terbenam, berkatalah orang-orang kota itu kepadanya: "Apakah yang lebih manis dari pada madu? Apakah yang lebih kuat dari pada singa?" Sahutnya kepada mereka: "Kalau kamu tidak membajak dengan lembu betinaku, pasti kamu tidak menebak teka-tekiku."”Hakim-hakim 14:18 · TB
Terjemahan Baru
“Jadi, pada hari yang ketujuh sebelum matahari terbenam, orang-orang kota itu berkata kepada Simson, "Apakah yang lebih manis daripada madu? Dan apakah pula yang lebih kuat daripada singa?" Simson menjawab, "Kalau kalian tidak memperalat istriku, kalian tidak akan dapat menebak teka-teki itu!"”Hakim-hakim 14:18 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Maka pada hari ketujuh, sebelum matahari terbenam, para pengiring itu berkata kepada Simson,“Makanan yang manis itu adalah madu. Dan pemakan yang perkasa itu adalah singa.” Jawab Simson,“Kalau kalian tidak memperalat istriku, kalian tidak akan bisa menjawab teka-tekiku!””Hakim-hakim 14:18 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And the men of the city said unto him on the seventh day before the sun went down, What is sweeter than honey? And what is stronger than a lion? And he said unto them, If ye had not plowed with my heifer, ye had not found out my riddle.”Hakim-hakim 14:18 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Hakim-hakim 14:18?
Sebelum matahari terbenam pada hari ketujuh, orang Filistin menjawab teka-teki itu, dan Simson tahu bahwa mereka mendapat jawaban dari istrinya. Dia marah karena telah dikhianati, dan menggunakan sindiran tentang 'membajak dengan sapi betina' untuk menunjukkan bahwa mereka curang.
Renungan
Renungan Singkat Hakim-hakim 14:18
Pengkhianatan dari orang terdekat sangat menyakitkan. Namun, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk mengampuni, sekaligus belajar dari pengalaman ini untuk lebih selektif dalam mempercayai orang dan tetap setia kepada Tuhan, bukan kepada manusia.
Tuhan, ajari aku untuk mengampuni orang yang menyakiti hati, dan berikanlah aku hikmat untuk menghadapi pengkhianatan dengan bijaksana. Amin.