Yefta Mempertaruhkan Nyawa

Hakim-hakim 12:3

Pertikaian Antar-Suku

Ketika kulihat bahwa kamu tidak menyelamatkan aku, aku mempertaruhkan nyawaku dan pergi melawan keturunan Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tanganku. Mengapa pada hari ini kamu mendatangi aku untuk berperang melawanku?”

Hakim-hakim 12:3 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Hakim-hakim 12:3?

Yefta menyatakan bahwa karena bantuan tidak datang, dia mempertaruhkan nyawanya untuk melawan bani Amon, dan Tuhan memberinya kemenangan. Dia mempertanyakan mengapa sekarang mereka datang untuk menyerangnya.

Latar belakang

Pembelaan Terakhir

Yefta menceritakan kronologi: ketika tidak ada yang menolong, dia mengambil risiko besar dan berperang sendiri. Tuhan memberikan kemenangan, dan sekarang Efraim menyerangnya.

Di mana

Zafon

Di tengah perundingan

Kapan

~1100 SM

Zaman Hakim-hakim

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Penolakan Efraim
Kemarahan Efraim meningkat
Kamu di sini
Y

Yang berbicara

Yefta

Hakim Israel, pahlawan dari Gilead

O

Kepada

Orang Efraim

Suku yang mempertanyakan

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

רָאָה

ra'ah · melihat

memperhatikan dengan seksama

שׂוּם

sum · mempertaruhkan

meletakkan, menempatkan

נָתַן

natan · menyerahkan

memberi, menyerahkan

Yefta 'meletakkan' nyawanya (sum), kemudian Tuhan 'memberi' kemenangan (natan)—menekankan inisiatif manusia dan anugerah ilahi.

Tahukah kamu

Nyawa sebagai Taruhan

Frasa 'mempertaruhkan nyawaku' dalam bahasa Ibrani adalah ungkapan berani yang menggambarkan bahaya maut yang dihadapi Yefta.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Hakim-hakim 12:3

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Hakim-hakim 12:3

✕  Sering dikira

Yefta hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.

✓  Yang sebenarnya

Dia mengakui campur tangan Tuhan dalam kemenangannya.

✕  Sering dikira

Yefta menyesal telah berperang.

✓  Yang sebenarnya

Dia bangga dan yakin, tetapi sedih karena Efraim tidak membantu.

Renungan

Renungan Singkat Hakim-hakim 12:3

Ketika kita berhasil melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, jangan menjadi sombong. Sebaliknya, akui bahwa keberhasilan itu berasal dari Tuhan dan tetap rendah hati terhadap orang lain, meskipun mereka tidak membantu.

Tuhan, ajari aku untuk tetap rendah hati dan mengucap syukur atas setiap kemenangan yang Engkau berikan, tanpa menyimpan dendam. Amin.