Duka yang Mencabik

Hakim-hakim 11:35

Janji yang Membawa Duka

Ketika dia melihat anaknya, dia mengoyakkan pakaiannya dan berkata, “Aduh, anakku, engkau membuat hatiku hancur. Engkau mencelakakan aku, sebab aku telah berjanji kepada TUHAN dan tidak dapat menariknya kembali.”

Hakim-hakim 11:35 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Hakim-hakim 11:35?

Yefta sangat berduka ketika melihat anaknya, karena dia ingat nazarnya yang tidak bisa ditarik kembali. Ia mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda kesedihan mendalam, menyadari bahwa kata-katanya telah membawa celaka.

Latar belakang

Mengoyakkan Pakaian

Yefta melihat anaknya, ia mengoyakkan pakaian sebagai tanda duka dan putus asa. Ia menyadari nazarnya kepada TUHAN menimpa anaknya sendiri, dan ia tidak bisa menarik janji itu.

Di mana

Mizpa, Gilead

Di depan rumah, saat pertemuan

Kapan

~1100 SM

Zaman Hakim-hakim

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Kemenangan atas Amon
Korban nazar Yefta
Kamu di sini
Y

Yang berbicara

Yefta

hakim Israel, mantan buangan, pahlawan perang

A

Kepada

Anak perempuan Yefta

anak tunggal yang setia, belum menikah

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

וַיִּקְרַע

vayikra · mengoyakkan

merobek, mengoyak

הֲכַרְעֵת

hakhare'it · menyakiti

menundukkan, membuat celaka

פָּצִיתִי

patsiti · berjanji

membuka mulut (bernazar)

Ketiga kata ini menunjukkan kepedihan mendalam: robeknya pakaian, kata 'menyakiti' yang mengungkapkan hati hancur, dan 'membuka mulut' sebagai komitmen yang tak bisa ditarik.

Tahukah kamu

Mengoyakkan Pakaian

Mengoyakkan pakaian adalah ekspresi duka yang umum di Alkitab, misalnya saat kabar buruk (2 Samuel 1:11) atau pertobatan (Yoel 2:13).

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Hakim-hakim 11:35

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Hakim-hakim 11:35

✕  Sering dikira

Mengira Yefta bisa membatalkan nazar jika ia mau.

✓  Yang sebenarnya

Dalam budaya Israel, nazar kepada Tuhan itu mengikat dan tidak dapat ditarik (Bilangan 30).

✕  Sering dikira

Berpikir Yefta marah pada anaknya.

✓  Yang sebenarnya

Ia sangat sedih, bukan marah; ia menyalahkan keadaan dan takdir.

Renungan

Renungan Singkat Hakim-hakim 11:35

Nazar atau janji yang kita buat harus ditepati, betapapun beratnya. Namun, penting untuk berpikir sebelum berjanji, terutama kepada Tuhan, agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Tuhan, ampuni aku jika aku pernah sembrono dalam berjanji. Ajarku untuk selalu bertutur kata dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Amin.