Elifas Menjawab Ayub

Ayub 22:1

Elifas Menuduh Ayub Berdosa

Kemudian, Elifas, orang Teman, menjawab, katanya,

Ayub 22:1 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Ayub 22:1?

Elifas, salah satu sahabat Ayub, mulai berbicara lagi. Ia berasal dari Teman, sebuah kota di Edom yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Dalam pasal ini, Elifas menuduh Ayub berbuat dosa dan menganggap penderitaan Ayub sebagai hukuman dari Allah.

Latar belakang

Elifas mulai berbicara

Setelah Ayub mengeluh tentang penderitaannya, Elifas merasa perlu menegur. Ia menganggap penderitaan Ayub sebagai akibat dosa, dan mulai menyerang dengan pertanyaan retoris.

Di mana

Tanah Uz

Di tempat abu, di luar perkampungan

Kapan

~2000 SM (zaman para bapa)

Periode para patriark

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Kemalangan Ayub
Tuduhan Elifas
Kamu di sini
E

Yang berbicara

Elifas, orang Teman

Sahabat Ayub, lebih tua, merasa bijak

A

Kepada

Ayub

Orang saleh yang menderita, sedang dalam keputusasaan

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

וַיַּעַן

vayya'an · menjawab

Memberi respons, sering dalam konteks diskusi atau perdebatan.

אֱלִיפַז

Elifaz · Elifas

Artinya 'Allahku adalah emas murni', menunjukkan karakter yang mulia.

תֵּימָן

Teyman · Teman

Nama tempat di Edom, melambangkan kebijaksanaan.

Nama Elifas dan asal usulnya menekankan wibawanya, tetapi jawabannya justru keliru tentang Allah.

Tahukah kamu

Teman berarti 'orang Teman'

Elifas berasal dari Teman, kota di Edom yang terkenal dengan hikmatnya. Ini membuatnya dianggap berwibawa.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Ayub 22:1

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Ayub 22:1

✕  Sering dikira

Menganggap Elifas sebagai pembicara yang benar

✓  Yang sebenarnya

Elifas mewakili hikmat manusia yang terbatas, bukan suara Allah

✕  Sering dikira

Mengira 'menjawab' berarti marah

✓  Yang sebenarnya

Dalam bahasa Ibrani, 'menjawab' sering berarti memulai pidato, tidak selalu emosional

Renungan

Renungan Singkat Ayub 22:1

Saat menghadapi orang yang menderita, kita mungkin tergoda untuk menyalahkan mereka. Namun, kita dipanggil untuk mendengarkan dan mengasihi, bukan menghakimi. Mari belajar menjadi sahabat yang membawa penghiburan, bukan tuduhan.

Tuhan, ajarlah aku untuk menjadi sahabat yang bijaksana dan penuh kasih, bukan cepat menghakimi sesamaku. Amin.