2 Samuel 20:1
“Kebetulan, di sana ada seorang yang berkelakuan jahat bernama Seba, anak Bikri, orang Benyamin. Dia meniup trompet dan berkata, “Kita tidak mendapat bagian dari Daud. Kita tidak mendapat milik pusaka dari anak Isai itu. Setiap orang ke tendanya, hai orang Israel!””2 Samuel 20:1 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Kebetulan ada di sana seorang dursila, bernama Seba bin Bikri, orang Benyamin. Ia meniup sangkakala serta berkata: "Kita tidak memperoleh bagian dari pada Daud. Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu. Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel!"”2 Samuel 20:1 · TB
Terjemahan Baru
“Di kota Gilgal ada seorang pengacau yang bernama Seba. Dia anak Bikri, dari suku Benyamin. Waktu iring-iringan Daud datang, Seba meniup trompet dan berseru, "Kita tidak ada hubungan dengan Daud. Untuk apa kita ikut dengan dia? Hai orang Israel, ayo kita pulang!"”2 Samuel 20:1 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Di Gilgal ada seorang yang sering menimbulkan masalah. Namanya Seba anak Bikri, dari suku Benyamin. Dia meniup terompet supaya semua orang mendengar pengumumannya lalu berseru-seru,“Dengar, orang Israel! Kita tidak usah tunduk kepada Daud, anak Isai itu! Biarkan dia memerintah suku Yehuda saja. Mari kita pulang saja!””2 Samuel 20:1 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And there happened to be there a man of Belial, whose name was Sheba, the son of Bichri, a Benjamite: and he blew a trumpet, and said, We have no part in David, neither have we inheritance in the son of Jesse: every man to his tents, O Israel.”2 Samuel 20:1 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti 2 Samuel 20:1?
Ayat ini memperkenalkan Seba, seorang Benyamin yang memberontak terhadap Daud. Dia memanfaatkan ketidakpuasan suku-suku Israel dengan meniup trompet dan berseru agar mereka meninggalkan Daud. Ini menunjukkan bagaimana hasutan dan kepentingan pribadi dapat memecah belah persatuan.
Renungan
Renungan Singkat 2 Samuel 20:1
Kata-kata kita bisa menjadi alat pemersatu atau pemecah belah. Sebelum menyebarkan informasi atau opini, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini membangun atau merusak? Hindari menjadi sumber perpecahan, baik di keluarga, gereja, maupun komunitas.
Tuhan, jagalah mulutku agar tidak mengucapkan kata-kata yang memecah belah, tetapi yang membangun dan mempersatukan. Amin.