~600-an SM
Yeremia
Nabi yang menangis untuk bangsanya
Siapa Itu Yeremia?
Yeremia adalah seorang nabi yang hidup di Kerajaan Yehuda pada abad ketujuh sebelum Masehi, sekitar 600-an SM. Ia dipanggil Tuhan sejak dalam kandungan, seperti yang tercatat dalam Yeremia 1, untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Panggilannya tidak mudah: ia harus menyampaikan pesan yang tidak populer, yaitu tentang penghakiman dan kehancuran Yehuda karena dosa-dosa mereka. Yeremia melayani selama pemerintahan beberapa raja, dan ia sering ditolak, dianiaya, dan bahkan dipenjarakan karena berita yang ia bawa.
Salah satu momen penting dalam hidupnya adalah ketika Allah mengirimnya ke rumah tukang periuk (Yeremia 18). Di sana, Yeremia melihat tukang periuk membentuk tanah liat, dan Allah menjelaskan bahwa Israel seperti tanah liat yang dapat dibentuk ulang — jika mereka bertobat, Allah akan mengubah rencana-Nya. Namun, bangsa itu tidak mau bertobat, sehingga Yeremia harus menyampaikan surat kepada orang buangan (Yeremia 29), memberi tahu mereka bahwa mereka akan tinggal di Babel selama 70 tahun dan bahwa Tuhan punya rencana damai sejahtera, bukan kecelakaan. Meskipun pesannya sulit, Yeremia menunjukkan kepatuhan dan kesetiaan, bahkan ketika ia dilempar ke dalam sumur (Yeremia 38) oleh para pejabat yang marah padanya. Ia tetap berdiri teguh, dan Tuhan menyelamatkannya.
Kisah Yeremia relevan bagi kita karena ia mengajarkan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, meskipun menghadapi penolakan dan penderitaan. Ia juga menunjukkan bahwa pengharapan selalu ada, bahkan di tengah kehancuran. Dalam Ratapan 3, Yeremia menulis, 'Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya' (Ratapan 3:22), sebuah pengakuan yang lahir dari pengalaman pahit. Hidupnya mengingatkan kita bahwa Allah setia, dan bahwa panggilan-Nya pada kita mungkin tidak mudah, tetapi selalu ada tujuan dan pengharapan di dalam-Nya.