~600–530 SM
Daniel
Buangan yang berdoa menghadap Yerusalem
Siapa Itu Daniel?
Daniel adalah seorang pemuda Yahudi yang dibawa ke Babel setelah Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem sekitar tahun 605 SM. Bersama teman-temannya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, ia dipilih untuk dilatih di istana raja. Sejak awal, Daniel menunjukkan integritasnya dengan menolak makanan dan anggur raja yang dianggap najis menurut hukum Taurat, dan memilih sayur-sayuran serta air. Tuhan memberkati kesetiaannya, memberi Daniel dan teman-temannya pengetahuan dan hikmat yang luar biasa, sehingga mereka berdiri di hadapan raja dengan kemampuan melebihi semua orang bijak di Babel.
Kisah Daniel penuh dengan momen-momen di mana imannya diuji dan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Dalam Daniel 2, Daniel tidak hanya menyingkapkan mimpi Nebukadnezar, tetapi juga mengungkapkan isi dan artinya, sesuatu yang gagal dilakukan oleh para ahli mimpi Babel. Kemudian, dalam Daniel 6, meskipun ada larangan berdoa kepada selain raja, Daniel tetap berdoa tiga kali sehari menghadap Yerusalem. Ia pun dilemparkan ke gua singa, namun Tuhan menutup mulut singa-singa itu, dan Daniel selamat tanpa cedera. Puncaknya, dalam Daniel 9, Daniel berdoa dengan penuh pengakuan dosa bagi bangsanya, dan Tuhan menjawab dengan memberikan penglihatan tentang masa depan.
Kisah Daniel relevan bagi kita hari ini karena mengajarkan tentang keberanian untuk hidup setia di tengah lingkungan yang tidak mengenal Tuhan. Daniel tidak berkompromi dengan imannya, tetapi melakukannya dengan bijaksana dan penuh hormat, tanpa menjadi agresif atau konfrontatif. Doa-doanya yang tulus, terutama saat menghadapi bahaya (gua singa) dan saat bergumul untuk bangsanya, mengingatkan kita akan kekuatan doa dan ketergantungan total kepada Tuhan. Daniel juga menunjukkan bahwa kesuksesan dan berkat bukan berarti hidup tanpa tantangan; sebaliknya, justru di dalam tantangan itulah iman ditempa dan Tuhan dimuliakan.