~700-an SM
Yesaya
Nabi Mesias tujuh abad sebelum Betlehem
Siapa Itu Yesaya?
Yesaya adalah seorang nabi yang hidup di Yerusalem sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Yesus, pada masa ketika Kerajaan Yehuda menghadapi ancaman dari Asyur dan Babel. Namanya berarti 'TUHAN adalah keselamatan', dan panggilannya dimulai dengan penglihatan yang luar biasa: dia melihat TUHAN duduk di atas takhta yang tinggi dan agung, dikelilingi oleh serafim yang berseru 'Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam' (Yesaya 6). Dalam penglihatan itu, Yesaya menyadari kenajisannya sendiri, tetapi api dari mezbah menyucikan bibirnya, dan dia menjawab panggilan TUHAN dengan berkata, 'Ini aku, utuslah aku'.
Kisah Yesaya mengalir dari penghakiman menuju pengharapan. Di pasal 9, dia menubuatkan kelahiran seorang Anak yang akan disebut 'Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai'—sebuah janji tentang Mesias yang akan memerintah dengan keadilan dan damai sejahtera. Pasal 40 kemudian membuka bagian penghiburan, di mana Yesaya menyuarakan firman TUHAN untuk menghibur umat-Nya: 'Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku', dan menegaskan bahwa kemuliaan TUHAN akan dinyatakan. Puncaknya ada di pasal 53, gambaran tentang Hamba yang Menderita—seorang yang tertindas, diremukkan karena kejahatan kita, dan 'oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh'. Yesaya melihat ke depan pada bagaimana Mesias akan menanggung dosa umat, sebuah visi yang jauh melampaui zamannya.
Yang membuat Yesaya relevan bagi kita hari ini adalah caranya berbicara tentang harapan di tengah kegelapan. Dia hidup di zaman yang penuh ketakutan, tetapi dia berani menyaksikan bahwa Allah berdaulat dan setia pada janji-Nya. Bagi pembaca modern yang mencari makna atau penghiburan, Yesaya mengingatkan kita bahwa kekudusan Allah dapat memberi arah, bahwa kehadiran-Nya menyertai bahkan ketika keadaan tampak mustahil, dan bahwa ada rencana keselamatan yang lebih besar daripada apa yang kita lihat. Nubuatan-nubuatan tentang Mesias yang lahir dan menderita memberi kita jangkar iman—bahwa Allah tidak tinggal diam, tetapi masuk dalam sejarah untuk membawa pemulihan. Yesaya juga mengajak kita untuk menjalani hidup yang adil dan rendah hati di hadapan Allah, karena respons yang benar terhadap kasih karunia-Nya adalah hidup yang beribadah dan melayani sesama.