~1900-an SM
Ishak
Anak perjanjian yang dinanti puluhan tahun
Siapa Itu Ishak?
Ishak adalah putra Abraham dan Sara, anak yang dijanjikan Allah kepada mereka di usia tua. Namanya sendiri berarti 'ia tertawa', merujuk pada reaksi Abraham dan Sara saat mendengar janji itu, karena rasanya mustahil. Kisahnya dimulai dengan momen paling menegangkan dalam hidupnya: ayahnya diperintahkan Allah untuk mempersembahkannya di Gunung Moria. Di tengah perjalanan, Ishak bertanya di mana domba untuk korban, dan Abraham menjawab bahwa Allah yang akan menyediakan. Tepat saat Abraham hendak menikam, malaikat Tuhan menghentikannya dan menyediakan domba sebagai ganti — momen ini menjadi ujian iman yang sangat dalam bagi keduanya.
Setelah Sara meninggal, Abraham mengutus hambanya untuk mencari istri bagi Ishak dari kaum kerabatnya di Mesopotamia. Melalui doa dan tanda, Ribka muncul, dan mereka menikah; kisah ini menunjukkan bagaimana Allah memimpin dalam hal yang tampak kecil sekalipun. Ishak dan Ribka kemudian mendapat dua anak kembar, Esau dan Yakub. Saat dewasa, Ishak mengalami kekeringan dan berpindah-pindah, menggali sumur yang sering diperebutkan orang Filistin — tetapi ia tetap bertahan dan Allah memberkatinya, sampai akhirnya ia bisa hidup dengan damai di Bersyeba. Di usia tuanya, saat mau memberkati Esau, Yakub menyamar dengan tipu daya dan menerima berkat yang seharusnya untuk Esau. Ishak yang buta tidak sadar, dan ketika tahu, ia tidak bisa menarik kembali berkatnya — sebuah kisah tentang konsekuensi dan rencana Allah yang tetap berjalan.
Kisah Ishak relevan hari ini karena menunjukkan bahwa Allah setia pada janji-Nya bahkan ketika manusia bimbang atau ragu. Ishak bukan tokoh yang sempurna — ia melakukan kesalahan seperti ayahnya dengan mengatakan Ribka adalah saudaranya karena takut — tetapi Allah tetap memakai hidupnya. Perjuangannya dengan sumur mengajarkan tentang ketekunan dan berserah kepada Tuhan di tengah konflik. Dan kenyataan bahwa berkat yang tertukar tidak bisa dibatalkan mengingatkan kita bahwa kata-kata dan keputusan kita punya bobot, sementara kasih karunia Allah sanggup bekerja dalam kekacauan untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang.