~2000 SM
Abraham
Bapa orang beriman yang berangkat tanpa tahu tujuan
Siapa Itu Abraham?
Dipanggil meninggalkan segalanya menuju negeri yang belum ditunjukkan, Abraham percaya — dan kepercayaan itu diperhitungkan sebagai kebenaran.
Abraham, yang awalnya bernama Abram, hidup sekitar 2000 SM di Ur-Kasdim, sebuah kota yang maju di Mesopotamia. Dalam Kejadian 12, Tuhan memanggilnya untuk meninggalkan tanah air, sanak saudara, dan rumah ayahnya, pergi ke negeri yang akan ditunjukkan-Nya. Abram menaati tanpa tahu tujuan akhir, dan di negeri Kanaan, Tuhan berjanji memberinya keturunan yang banyak seperti bintang di langit (Kejadian 15). Perjanjian itu diteguhkan dengan ritual darah, dan meskipun Abram dan istrinya Sara sudah tua, mereka akhirnya mendapat anak, Ishak, pada waktu yang ditentukan Tuhan (Kejadian 21).
Kisah Abraham mencapai puncaknya di Gunung Moria, ketika Tuhan menguji imannya dengan meminta ia mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihinya (Kejadian 22). Abraham taat, tetapi pada saat terakhir, Tuhan menyediakan seekor domba sebagai pengganti, menunjukkan bahwa Dia setia pada janji-Nya. Bagi pembaca hari ini, Abraham mengajarkan bahwa iman bukan berarti tanpa keraguan, tetapi berani melangkah dalam ketidakpastian karena percaya pada Allah yang memegang kendali. Iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keputusan untuk terus mempercayai janji Tuhan, bahkan ketika jalan tampak mustahil.