Tanya jawab
Mengapa tokoh Alkitab berpoligami — apakah Alkitab mengizinkannya?
Jawaban singkat
Alkitab mencatat poligami dalam Perjanjian Lama tanpa selalu mengutuknya secara eksplisit, tetapi sejak awal Allah merancang pernikahan sebagai satu pria dan satu wanita (Kejadian 2:24). Perjanjian Baru menegaskan standar ini untuk para pemimpin gereja, dan prinsip kesetiaan menjadi teladan bagi semua orang. Jadi, Alkitab tidak mengizinkan poligami sebagai norma, tetapi menoleransinya dalam konteks zaman dahulu.
Pembahasan Lebih Dalam
Alkitab memang mencatat kisah tokoh-tokoh berpoligami, seperti Abraham, Yakub, Daud, dan Salomo. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa pencatatan itu adalah deskripsi, bukan preskripsi. Artinya, Alkitab menceritakan apa yang terjadi, tetapi tidak secara eksplisit menyatakan bahwa poligami itu baik atau sesuai kehendak Allah. Bahkan, kisah-kisah tersebut sering kali menunjukkan masalah dan konflik yang timbul akibat poligami, seperti kecemburuan dan persaingan dalam keluarga. Selain itu, Allah sejak awal telah menetapkan standar pernikahan: seorang laki-laki akan bersatu dengan isterinya, menjadi satu daging (Kejadian 2:24). Ini menunjukkan rancangan monogami.
Perjanjian Baru menegaskan standar ini lebih jelas. Yesus mengutip Kejadian 2:24 dan menekankan bahwa pernikahan adalah kesatuan satu pria dan satu wanita (Matius 19:5). Rasul Paulus pun memberikan syarat bagi penilik jemaat dan diaken untuk menjadi 'suami dari satu istri' (1 Timotius 3:2; Titus 1:6). Meskipun syarat ini secara harfiah ditujukan untuk pejabat gereja, hal itu mencerminkan norma Kristen secara umum. Orang Kristen berbeda pendapat mengenai apakah poligami yang terjadi sebelum pertobatan harus dibubarkan jika seseorang menjadi Kristen, tetapi semua sepakat bahwa poligami tidak sesuai dengan rancangan Allah dan bukan praktik yang seharusnya dipromosikan.
Bagi kita hari ini, yang penting adalah memahami bahwa Allah menginginkan pernikahan yang sehat dan setia. Poligami zaman dahulu adalah bagian dari konteks budaya yang tidak sempurna, tetapi Allah sedang membimbing umat-Nya menuju standar yang lebih tinggi, yang dinyatakan dengan jelas dalam Perjanjian Baru. Jika Anda bergumul dengan pertanyaan ini karena pengalaman pribadi atau pertanyaan dari orang lain, ingatlah bahwa kasih karunia Allah cukup untuk setiap keadaan. Fokuslah pada hubungan Anda dengan Kristus dan berusahalah untuk hidup sesuai prinsip Alkitab dalam pernikahan, yaitu kesetiaan, saling menghargai, dan kasih yang mencerminkan hubungan Kristus dengan gereja.
Ayat-Ayat yang Relevan
Kejadian 2:24
“Karena itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya sehingga mereka akan menjadi satu daging.”
Lihat arti & konteks Kejadian 2:24 →Matius 19:5
“dan Ia berfirman, ‘Karena itu, laki-laki harus meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan menjadi satu dengan istrinya, dan keduanya itu akan menjadi satu tubuh’?”
Lihat arti & konteks Matius 19:5 →1 Timotius 3:2
“Karena itu, penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercela, suami dari satu istri, bijaksana, menguasai diri, dihormati, suka memberi tumpangan, dan terampil mengajar,”
Lihat arti & konteks 1 Timotius 3:2 →Ulangan 17:17
“Dia juga tidak boleh memiliki banyak istri dan hatinya tidak boleh menyimpang. Dan, dia tidak boleh membuat dirinya sendiri kaya dengan perak dan emas.”
Lihat arti & konteks Ulangan 17:17 →Titus 1:6
“Dia haruslah orang yang tidak bercela, suami dari satu istri, mempunyai anak-anak yang percaya, dan tidak dituduh karena hidup yang tidak bermoral atau memberontak.”
Lihat arti & konteks Titus 1:6 →