Perintah Memahat Loh Batu Baru
Ulangan 10:1
Perjanjian dan Panggilan untuk Taat
“Pada waktu itu, TUHAN berfirman kepadaku, “Kamu harus memahat dua loh batu seperti batu yang pertama. Lalu, kamu harus naik ke gunung untuk menemui Aku. Buatlah juga sebuah tabut kayu.”Ulangan 10:1 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“"Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pahatlah dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula, naiklah kepada-Ku ke atas gunung, dan buatlah sebuah tabut dari kayu;”Ulangan 10:1 · TB
Terjemahan Baru
“"Kemudian TUHAN berkata kepada saya, 'Musa, pahatlah dua lempeng batu seperti yang pertama, dan buatlah juga sebuah peti kayu untuk tempatnya, lalu datanglah kepada-Ku di puncak gunung.”Ulangan 10:1 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Musa melanjutkan kisahnya kepada umat Israel, “Pada waktu itu, TUHAN berkata kepada saya, ‘Pahatlah dua lempengan batu seperti yang pertama, dan buatlah peti kayu untuk tempatnya. Kemudian naiklah ke gunung ini untuk menemui Aku dengan membawa kedua lempengan batu itu.”Ulangan 10:1 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“At that time the LORD said unto me, Hew thee two tables of stone like unto the first, and come up unto me into the mount, and make thee an ark of wood.”Ulangan 10:1 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Ulangan 10:1?
Ayat ini menceritakan perintah Tuhan kepada Musa untuk memahat dua loh batu baru sebagai pengganti loh yang telah dipecahkan, serta membuat tabut kayu untuk menyimpan loh tersebut. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memberi kesempatan kedua dan memulihkan hubungan yang sempat rusak karena dosa.
Latar belakang
Allah Memberi Kesempatan Kedua
Setelah Musa memecahkan loh batu karena kemarahan atas penyembahan berhala, Allah memerintahkan Musa untuk memahat dua loh batu baru dan naik ke gunung. Ia juga diminta membuat tabut kayu untuk menyimpan loh-loh itu, menunjukkan kesediaan Allah untuk memperbarui perjanjian-Nya.
Di mana
Gunung Sinai
Di atas gunung, saat Musa menerima firman Tuhan
Kapan
~1440 SM
Perjalanan di padang gurun
Yang berbicara
Musa
Pemimpin Israel, pernah bertemu Allah di gunung
Kepada
Orang Israel
Umat pilihan Allah, sedang dalam perjalanan ke Kanaan
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
פָּסַל
pasal · memahat
memotong atau mengukir batu menjadi bentuk tertentu
לוּחַ אֶבֶן
luach even · loh batu
papan atau lempengan batu yang digunakan sebagai media tulisan
עָלָה
alah · naik
pergi ke tempat yang lebih tinggi, sering kali ke gunung untuk bertemu Allah
Ketiga kata ini menunjukkan tindakan aktif manusia (memahat, naik) dan media fisik (loh batu) yang dipakai Allah untuk menyampaikan firman-Nya. Kesediaan Allah untuk menuliskan kembali firman-Nya di loh batu baru menekankan kasih karunia dan kesempatan kedua.
Tahukah kamu
Tabut Kayu Penaga
Tabut yang dibuat Musa terbuat dari kayu penaga (akasia), kayu yang kuat dan tahan lama, melambangkan kekokohan perjanjian Allah.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Ulangan 10:1
Keluaran 34:1
Perintah serupa
“TUHAN berfirman kepada Musa: "Pahatlah dua loh batu yang sama seperti yang dahulu, maka Aku akan menuliskan pada loh itu perkataan yang ada pada loh yang dahulu, yang telah kaupecahkan itu."”
Ulangan 10:5
Tindak lanjut
“Lalu aku turun dari gunung dan menaruh loh-loh itu ke dalam tabut yang telah kubuat; dan di situlah loh-loh itu tinggal, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadaku.”
Keluaran 25:10
Instruksi tabut
“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya, dan satu setengah hasta tingginya.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Ulangan 10:1
✕ Sering dikira
Beberapa orang berpikir Allah hanya memberi perintah sekali dan tidak mau mengulang.
✓ Yang sebenarnya
Allah justru memerintahkan Musa untuk membuat loh baru, menunjukkan kesediaan-Nya untuk memulihkan hubungan.
✕ Sering dikira
Ada yang mengira tabut kayu dibuat oleh orang lain, bukan Musa.
✓ Yang sebenarnya
Ayat ini jelas menyatakan Musa yang membuat tabut itu, meskipun kemudian ada ahli yang membuatnya sesuai spesifikasi.
Renungan
Renungan Singkat Ulangan 10:1
Kita sering merasa gagal dan tidak layak, tetapi Tuhan selalu memberi kesempatan untuk memulai kembali. Jangan biarkan kegagalan masa lalu menghalangi kita untuk melangkah maju dalam ketaatan.
Tuhan, terima kasih untuk kesempatan kedua yang Engkau berikan. Ajar kami untuk bangkit dan mengikuti perintah-Mu dengan setia. Amin.