Persembahan cacat
Maleakhi 1:8
Kasih yang tak terbalas
“‘Jika kamu mempersembahkan yang buta sebagai kurban, bukankah itu jahat? Jika kamu mempersembahkan yang timpang dan sakit, bukankah itu jahat? Sekarang, persembahkanlah itu kepada gubernurmu, apakah dia akan berkenan kepadamu atau memandang wajahmu?’ firman TUHAN semesta alam.”Maleakhi 1:8 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.”Maleakhi 1:8 · TB
Terjemahan Baru
“Kalau kamu mempersembahkan kepada-Ku binatang yang buta, yang sakit atau yang lumpuh, bukankah itu perbuatan yang salah? Coba memberi binatang semacam itu kepada gubernur! Apakah ia akan senang dan memperlakukan kamu dengan baik?"”Maleakhi 1:8 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“(1:7)”Maleakhi 1:8 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And if ye offer the blind for sacrifice, is it not evil? and if ye offer the lame and sick, is it not evil? offer it now unto thy governor; will he be pleased with thee, or accept thy person? saith the LORD of hosts.”Maleakhi 1:8 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Maleakhi 1:8?
Tuhan menegur para imam yang mempersembahkan kurban buta, timpang, atau sakit. Dia menantang mereka untuk memberikan persembahan seperti itu kepada gubernur mereka—apakah gubernur akan berkenan? Ayat ini mengajarkan bahwa persembahan yang terbaik adalah yang layak dan tanpa cacat, karena itu menunjukkan penghormatan kepada Allah.
Latar belakang
Kurban yang memalukan
Tuhan mengajukan pertanyaan retoris: jika mereka mempersembahkan binatang buta, timpang, atau sakit kepada gubernur manusia, apakah gubernur itu akan berkenan? Ini menunjukkan betapa tidak layaknya persembahan mereka kepada Tuhan yang maha besar.
Di mana
Yerusalem
Di bait suci, mungkin dekat pintu gerbang
Kapan
~430 SM
Era pasca-pembuangan
Yang berbicara
Tuhan
Tuhan semesta alam, melalui Maleakhi
Kepada
Para imam
Imam-imam yang memimpin ibadah
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
עִוֵּר
ivver · buta
buta, tidak dapat melihat
פִּסֵּחַ
pisse'ach · timpang
pincang, timpang
חָלָה
chalah · sakit
sakit, lemah, menderita
Ketiga kata ini menggambarkan ketidaksempurnaan fisik yang jelas—buta, timpang, sakit. Ini menekankan bahwa mereka dengan sengaja memilih yang buruk untuk dipersembahkan, bukan karena tidak punya yang baik.
Tahukah kamu
Gubernur Persia
Pada zaman itu, Yehuda berada di bawah kekuasaan Persia, dan gubernur adalah pejabat yang berkuasa. Memberi hadiah cacat kepada gubernur bisa berakibat fatal, jadi ilustrasi ini sangat tajam.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Maleakhi 1:8
Ulangan 15:21
Larangan cacat
“Apabila ia mempunyai cacat, timpang atau buta, janganlah engkau sembelih itu bagi TUHAN, Allahmu.”
Imamat 22:22
Binatang cacat
“Janganlah kamu mempersembahkan binatang yang buta, yang timpang, yang terluka, yang berbisul, yang berkurap, atau yang berpenyakit kulit.”
2 Korintus 9:7
Memberi rela
“Setiap orang menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Maleakhi 1:8
✕ Sering dikira
Tuhan tidak peduli dengan kualitas persembahan kita asalkan kita memberi.
✓ Yang sebenarnya
Tuhan menginginkan yang terbaik dari kita, bukan sisa-sisa. Ini mencerminkan kasih dan hormat kita kepada-Nya.
✕ Sering dikira
Ayat ini hanya tentang kurban binatang di Perjanjian Lama.
✓ Yang sebenarnya
Prinsipnya berlaku untuk segala bentuk ibadah dan pelayanan kita: berikan yang terbaik, bukan yang cacat atau asal-asalan.
Renungan
Renungan Singkat Maleakhi 1:8
Apa yang kita berikan kepada Tuhan—waktu, talenta, atau kekayaan—apakah yang terbaik? Jangan berikan sisa atau yang tidak layak. Belajarlah untuk memberi yang terbaik sebagai ungkapan cinta kita.
Tuhan, mampukan aku untuk memberikan yang terbaik dalam hidupku sebagai persembahan kepada-Mu, bukan sisa-sisa. Amin.