Di Kebangkitan, Siapa Suaminya?
Lukas 20:33
Debat Besar di Bait Allah
“Jadi, pada hari penghakiman, siapakah yang akan menjadi suami dari perempuan itu karena ketujuh bersaudara itu telah menikahinya?””Lukas 20:33 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."”Lukas 20:33 · TB
Terjemahan Baru
“Pada hari orang mati dibangkitkan kembali, istri siapakah wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya sudah kawin dengan dia."”Lukas 20:33 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Jadi, kalau memang benar orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali, perempuan itu akan disebut istri siapa?— karena ketujuh bersaudara itu sudah pernah menjadi suaminya.””Lukas 20:33 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“Therefore in the resurrection whose wife of them is she? for seven had her to wife.”Lukas 20:33 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Lukas 20:33?
Pertanyaan ini menguji Yesus tentang status pernikahan di akhirat: siapakah suami dari perempuan itu setelah ia menikahi tujuh bersaudara? Orang Saduki memakai kasus ini untuk membuktikan bahwa kebangkitan tidak masuk akal, karena pernikahan adalah ikatan duniawi.
Latar belakang
Pertanyaan yang dirancang sebagai jebakan logis
Ini adalah pertanyaan puncak dari seluruh skenario yang dibangun sejak ayat 28. Logika Saduki: kalau ada kebangkitan, semua tujuh saudara dan perempuan itu akan bangkit bersama. Tapi siapa suaminya? Pernikahan satu perempuan dengan tujuh laki-laki sekaligus adalah absurditas — jadi kebangkitan pasti tidak ada.
Di mana
Bait Allah, Yerusalem
Halaman luar Bait Allah — momen klimaks debat kebangkitan
Kapan
~30 M
Pekan terakhir Yesus
Yang berbicara
Orang Saduki
Melontarkan pertanyaan pamungkas yang mereka yakini tidak bisa dijawab
Kepada
Yesus dan kerumunan
Semua menunggu bagaimana Yesus akan menjawab
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
τίνος αὐτῶν γίνεται γυνή
siapakah yang akan menjadi suami · whose wife
Pertanyaan kepemilikan — siapa yang berhak memiliki perempuan itu di kebangkitan
ἀναστάσει
hari penghakiman · resurrection
Kebangkitan — kata yang menjadi inti perdebatan seluruh skenario
οἱ ἑπτά
ketujuh bersaudara · the seven
Semua tujuh saudara — setiap mereka punya klaim pernikahan yang sah
Pertanyaan siapakah yang menjadi suami mengekspos asumsi tersembunyi Saduki: mereka membayangkan kebangkitan hanyalah kelanjutan kehidupan dunia ini dengan segala hukumnya — sesuatu yang akan dijungkirbalikkan Yesus.
Tahukah kamu
Versi berbeda dari pertanyaan yang sama dalam Talmud
Talmud merekam versi-versi diskusi serupa antara Farisi dan Saduki tentang konsekuensi sosial kebangkitan. Ini bukan pertanyaan yang diinvent on the spot — ini adalah amunisi debat teologis yang sudah diasah selama generasi.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Lukas 20:33
1 Korintus 15:35
Paulus mengakui pertanyaan tentang kondisi kebangkitan adalah pertanyaan yang wajar
“Tetapi mungkin ada orang yang bertanya, Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?”
Matius 22:28
Paralel dari Matius untuk pertanyaan yang sama
“Maka pada hari kebangkitan, istri siapakah perempuan itu di antara ketujuh orang itu? Karena mereka semua telah mengawininya.”
1 Korintus 15:44
Paulus menjawab pertanyaan tentang kondisi kebangkitan: bukan tubuh/kategori yang sama
“Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Lukas 20:33
✕ Sering dikira
Pertanyaan ini adalah masalah hukum yang serius yang perlu diselesaikan
✓ Yang sebenarnya
Ini pertanyaan retoris yang dirancang untuk membuat kebangkitan tampak absurd — bukan masalah hukum yang perlu dipecahkan
✕ Sering dikira
Yesus perlu memilih satu dari tujuh saudara untuk jadi jawaban
✓ Yang sebenarnya
Yesus justru menolak seluruh kerangka pertanyaan — kebangkitan tidak mengikuti logika pernikahan duniawi
Renungan
Renungan Singkat Lukas 20:33
Pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian sering membuat kita bertanya-tanya. Namun, daripada sibuk dengan detail yang belum kita ketahui, kita bisa percaya bahwa Allah punya rencana yang indah dan melampaui pemahaman kita.
Bapa, aku percaya bahwa Engkau memegang masa depanku, termasuk kehidupan setelah mati. Beri aku damai saat aku tidak mengerti semua hal, dan kuatkan imanku kepada-Mu. Amin.