Ayub tentang musuh

Ayub 31:29

Ayub Membela Diri

Jika aku bersukacita atas kehancuran musuhku, atau meninggikan diri ketika kejahatan menimpanya,

Ayub 31:29 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Ayub 31:29?

Ayub tidak pernah bersukacita atas kehancuran musuhnya atau merasa bangga ketika celaka menimpa mereka. Ia menolak untuk membalas dendam dengan hati yang puas melihat penderitaan orang lain.

Latar belakang

Ayub tidak membalas dendam

Ayub melanjutkan pembelaannya dengan menyatakan bahwa ia tidak pernah bersukacita atas kehancuran musuhnya. Ia menolak untuk merasa puas saat musuh celaka, karena itu bertentangan dengan kasih Allah.

Di mana

Tanah Us

Di antara abu, tempat Ayub duduk

Kapan

~2000 SM

Zaman para bapa leluhur

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Ayub kehilangan segalanya
Allah menjawab Ayub
Kamu di sini
A

Yang berbicara

Ayub

orang saleh yang menderita secara tak adil

S

Kepada

Sahabat-sahabatnya

Elifas, Bildad, dan Zofar yang menuduhnya

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

שָׂמַח

samakh · bersukacita

merasa senang atau gembira

פִּיד

pid · kehancuran

bencana atau malapetaka yang menimpa seseorang

עוּר

ur · meninggikan diri

terbangun atau tergerak untuk bersorak

Ayub menekankan bahwa reaksi yang benar terhadap musuh adalah tidak bersukacita atas penderitaan mereka, karena itu menunjukkan hati yang tidak sesuai dengan karakter Allah yang penuh kasih karunia.

Tahukah kamu

Musuh dalam kitab Ayub

Kata 'musuh' di sini bisa merujuk pada orang-orang yang memusuhi Ayub karena kekayaannya atau perampok yang mengambil ternaknya.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Ayub 31:29

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Ayub 31:29

✕  Sering dikira

Ayub mengaku tidak punya musuh.

✓  Yang sebenarnya

Ayub mengakui memiliki musuh, tetapi ia tidak bersukacita atas kehancuran mereka.

✕  Sering dikira

Ayub tidak peduli dengan musuhnya.

✓  Yang sebenarnya

Ayub justru menunjukkan kebaikan dengan tidak membalas kejahatan.

Renungan

Renungan Singkat Ayub 31:29

Saat seseorang yang menyakiti kita mengalami kegagalan, reaksi alami kita mungkin senang. Namun Ayub mengajarkan kita untuk tidak bersukacita atas kejatuhan orang lain. Sebaliknya, kita bisa berdoa untuk mereka dan tetap menjaga hati kita dari kepahitan.

Ya Tuhan, ubah hatiku agar tidak bersukacita atas celaka orang lain, dan berikan aku kasih yang mau mengampuni. Amin.