Ayub ditegur Elifas

Ayub 15:7

Elifas menyerang Ayub

Apakah kamu manusia pertama yang dilahirkan? Apakah kamu dijadikan sebelum bukit-bukit?

Ayub 15:7 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti Ayub 15:7?

Elifas mengejek Ayub dengan pertanyaan retoris: apakah Ayub manusia pertama yang dilahirkan, atau diciptakan sebelum bukit-bukit? Ini adalah sindiran bahwa Ayub berbicara seolah-olah dia memiliki kebijaksanaan yang lebih tua dan lebih unggul daripada nasihat tradisional yang diberikan oleh para sahabatnya.

Latar belakang

Sindiran sarkastis

Elifas mengejek Ayub dengan pertanyaan retoris, apakah Ayub manusia pertama yang dilahirkan? Ini menyindir bahwa Ayub menganggap dirinya bijak melebihi orang lain, padahal usianya belum seberapa.

Di mana

Tempat pembuangan abu

Di antara reruntuhan, debu, dan puing

Kapan

~2000 SM

Zaman para bapa leluhur

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Ayub kehilangan segalanya
Ayub dijawab Allah
Kamu di sini
E

Yang berbicara

Elifas

Teman Ayub, sering mengklaim hikmat dari penglihatan.

A

Kepada

Ayub

Lelaki saleh yang sedang menderita.

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

רִאשׁוֹן

rishon · pertama

pertama, terdepan, utama

יָלַד

yalad · dilahirkan

melahirkan, dilahirkan

גֶּבַע

geva · bukit

bukit, gunung kecil

Pertanyaan Elifas menekankan bahwa Ayub bukanlah manusia pertama yang lahir, sehingga hikmatnya tidak mungkin melampaui tradisi.

Tahukah kamu

Manusia pertama?

Dalam budaya Timur Tengah kuno, menjadi 'yang pertama' berarti memiliki otoritas dan hikmat tertinggi, seperti Adam.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan Ayub 15:7

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang Ayub 15:7

✕  Sering dikira

Menganggap Ayub benar-benar mengaku sebagai manusia pertama.

✓  Yang sebenarnya

Ini sindiran, bukan tuduhan literal.

✕  Sering dikira

Mengira pertanyaan ini hanya tentang usia.

✓  Yang sebenarnya

Ini soal otoritas dan hikmat yang dianggap Elifas dimiliki oleh orang-orang tua.

Renungan

Renungan Singkat Ayub 15:7

Saat kita merasa yakin akan pendapat kita, kita perlu merendahkan diri. Kebijaksanaan sejati tidak datang dari merasa diri lebih tahu, tetapi dari kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain, terutama mereka yang lebih berpengalaman.

Tuhan, ajari aku untuk rendah hati dan tidak menganggap diriku lebih bijaksana daripada orang lain, supaya aku dapat belajar dari mereka. Amin.