Kejahatan yang Tidak Sejahat Pendahulunya

2 Raja-raja 17:2

Kejatuhan Samaria dan Pembuangan Israel

Dia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, tetapi tidak seperti raja-raja Israel yang ada sebelumnya.

2 Raja-raja 17:2 · AYT

Alkitab Yang Terbuka

Arti ayat

Apa Arti 2 Raja-raja 17:2?

Meskipun Hosea melakukan yang jahat di mata Tuhan, ia tidak sejahat raja-raja Israel sebelumnya. Ini menunjukkan ada tingkatan kejahatan, tetapi tetap saja dosa. Standar Tuhan adalah kesempurnaan, bukan sekadar lebih baik dari orang lain.

Latar belakang

Jahat tapi tidak seburuk yang lain

Penulis mencatat bahwa Hosea melakukan yang jahat di mata TUHAN, tetapi tidak seperti raja-raja Israel sebelumnya. Ini menunjukkan ada tingkat kejahatan yang berbeda.

Di mana

Samaria

Penilaian penulis tentang pemerintahan Hosea

Kapan

~730 SM

Kerajaan Terbagi

Abraham
Keluaran
Kerajaan
Pembuangan
Yesus
Hosea naik takhta
Salmaneser menyerang
Kamu di sini
P

Yang berbicara

Penulis 2 Raja-raja

Sejarawan Israel, menilai moral raja

P

Kepada

Pembaca kitab

Orang-orang yang ingin memahami sejarah bangsa

Studi kata

Kata Kunci dalam Bahasa Asli

רַע

ra' · Jahat

buruk, jahat, yang tidak menyenangkan

עֵינַיִם

‘ênayim · Mata

mata (jamak); sering dipakai untuk penilaian

מְלָכִים

məlākîm · Raja-raja

raja-raja

Frasa 'jahat di mata TUHAN' adalah penilaian teologis, bukan sekadar moral. Hosea masih gagal standar TUHAN, meski tidak seburuk pendahulunya.

Tahukah kamu

Hosea mungkin lebih moderat

Meski jahat, ia tidak sepenuhnya meninggalkan penyembahan TUHAN seperti Yerobeam yang membuat patung anak lembu.

Ayat terkait

Ayat Lain yang Menggemakan 2 Raja-raja 17:2

Sering disalahpahami

Salah Kaprah tentang 2 Raja-raja 17:2

✕  Sering dikira

Hosea dianggap tidak jahat sama sekali.

✓  Yang sebenarnya

Ia tetap jahat, hanya tidak sejahat raja-raja sebelumnya.

✕  Sering dikira

'Jahat di mata TUHAN' berarti TUHAN melihat dengan mata fisik.

✓  Yang sebenarnya

Ini idiom untuk penilaian Allah.

Renungan

Renungan Singkat 2 Raja-raja 17:2

Kita sering membandingkan diri dengan orang lain, merasa sudah cukup baik. Namun, Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus, bukan sekadar lebih baik. Mari kita berhenti membandingkan dan mulai bertanya: apakah hidup kita menyenangkan hati Tuhan?

Ya Tuhan, mampukan kami untuk hidup sesuai standar-Mu, bukan sekadar lebih baik dari orang lain. Amin.