~1050–1010 SM
Saul
Raja pertama yang jatuh karena tidak taat
Siapa Itu Saul?
Saul adalah putra Kish dari suku Benyamin, seorang pemuda yang gagah dan tampan, yang kisahnya dimulai dengan cara yang tidak terduga: ia pergi mencari keledai ayahnya yang hilang, tetapi justru bertemu dengan nabi Samuel yang kemudian mengurapinya menjadi raja pertama Israel (1 Samuel 9–10). Awalnya ia terlihat rendah hati—bahkan bersembunyi di antara barang-barang ketika diumumkan sebagai raja—tetapi panggilannya membawa harapan besar bagi bangsa yang ingin memiliki raja seperti bangsa-bangsa lain, meskipun Tuhan sebenarnya telah memperingatkan konsekuensinya.
Kisah Saul berubah tragis ketika ia mulai tidak taat kepada perintah Tuhan. Pada pasal 15, ia diperintahkan untuk memusnahkan orang Amalek sepenuhnya, tetapi ia menyelamatkan raja Agag dan yang terbaik dari ternak, dengan alasan untuk mempersembahkannya kepada Tuhan. Samuel menegurnya keras, mengatakan bahwa ketaatan lebih baik daripada persembahan, dan bahwa Tuhan telah menolak Saul sebagai raja karena ia menolak firman Tuhan. Sejak saat itu, roh Tuhan meninggalkan Saul, dan ia diliputi kecemasan dan kecemburuan, terutama terhadap Daud yang kemudian diurapi menggantikannya. Akhir hidupnya memilukan: di gunung Gilboa, setelah dikalahkan oleh orang Filistin, Saul jatuh ke pedangnya sendiri, sementara tiga anaknya tewas dalam pertempuran itu (1 Samuel 31).
Kisah Saul relevan karena mengingatkan kita bahwa kedudukan dan karunia tidak menjamin kesetiaan. Saul memiliki segala kelebihan, tetapi ia lebih takut pada manusia daripada kepada Tuhan, dan ia memilih jalan pintas daripada menunggu dengan iman. Kisahnya mengajarkan bahwa ketaatan bukan soal ritual atau agama, tetapi soal hati yang mau merendah dan taat pada pimpinan Tuhan—bahkan ketika perintah itu sulit. Bagi kita hari ini, Saul menjadi cermin yang mengundang kita untuk bertanya: apakah kita mengasihi posisi yang kita pegang lebih daripada kehadiran Tuhan yang memberikannya?