~970–931 SM
Salomo
Raja paling berhikmat yang hatinya menyimpang
Siapa Itu Salomo?
Salomo adalah raja ketiga Israel, putra Daud dan Batsyeba, yang memerintah sekitar tahun 970–931 SM. Ceritanya dimulai ketika Allah menawarinya permintaan apa pun, dan Salomo memilih hati yang memahami untuk membedakan yang baik dan yang jahat, bukan umur panjang atau kekayaan (1 Raja-raja 3:9). Permintaan ini menyenangkan hati Allah, sehingga selain hikmat, ia juga diberi kekayaan dan kemuliaan yang luar biasa. Salomo terkenal karena keputusannya yang adil, seperti saat dua ibu memperebutkan seorang bayi, yang menunjukkan hikmat yang diberikan Allah kepadanya.
Salomo kemudian membangun Bait Allah di Yerusalem, sebuah proyek besar yang memakan waktu tujuh tahun (1 Raja-raja 6). Ketenarannya menyebar hingga ratu Syeba datang menguji hikmatnya dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan ia terkesima melihat kekayaan serta kebijaksanaannya (1 Raja-raja 10). Namun, di masa tuanya, Salomo menyimpang dari Allah karena menikahi banyak perempuan asing yang membawanya menyembah ilah-ilah lain, seperti Asytoret dan Molekh (1 Raja-raja 11:4-7). Akibatnya, Allah menghukumnya dengan memecah kerajaan setelah ia mati, meninggalkan warisan yang rumit antara kejayaan dan kejatuhan.
Kisah Salomo relevan karena menunjukkan bahwa hikmat sejati adalah anugerah yang harus dijaga, bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Banyak dari kita mungkin meminta hal-hal praktis seperti kesuksesan atau keamanan, tetapi Salomo mengajarkan untuk memprioritaskan kebijaksanaan dalam hidup. Namun, peringatannya juga nyata: bahkan orang yang paling berhikmat pun bisa tersesat jika tidak berakar pada Tuhan. Ini mengingatkan kita bahwa keintiman dengan Allah perlu dipelihara setiap hari, bukan hanya di awal perjalanan iman, dan bahwa keputusan kecil yang tampaknya tidak signifikan bisa membawa konsekuensi besar.