Zaman purba
Nuh
Pembuat bahtera di tengah zaman yang rusak
Siapa Itu Nuh?
Nuh adalah seorang pria saleh di tengah generasi yang sangat rusak, seperti yang dicatat dalam kitab Kejadian. Alkitab menggambarkannya sebagai orang yang benar dan hidup berjalan dengan Allah, berbeda dengan orang-orang sezamannya yang penuh kekerasan dan kejahatan. Karena itu, Allah memilih Nuh untuk menjalankan misi yang luar biasa: membangun sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan keluarganya dan mewakili setiap jenis hewan dari air bah yang akan datang. Kisah ini dimulai ketika Allah memberi perintah spesifik tentang ukuran, bahan, dan cara membangun bahtera, dan Nuh dengan taat mengerjakan semua itu selama bertahun-tahun, meskipun mungkin diejek oleh orang-orang di sekitarnya.
Ketika musim air bah tiba, Nuh, keluarganya, dan hewan-hewan masuk ke dalam bahtera, lalu Allah menutup pintunya. Air bah datang meliputi seluruh bumi, memusnahkan semua yang hidup di darat, tetapi Nuh dan semua yang bersamanya selamat. Setelah 150 hari, air mulai surut, dan bahtera berhenti di Pegunungan Ararat. Nuh melepaskan seekor burung gagak dan kemudian burung merpati untuk memeriksa apakah air sudah kering; akhirnya, ketika burung merpati tidak kembali dengan daun zaitun, Nuh tahu bumi sudah bisa dihuni lagi. Setelah keluar dari bahtera, Nuh membangun mezbah dan mempersembahkan korban bakaran, dan Allah berjanji untuk tidak lagi menghancurkan bumi dengan air bah.
Kisah Nuh relevan bagi kita karena berbicara tentang iman dan ketaatan di tengah dunia yang tidak percaya. Nuh bertindak berdasarkan apa yang Allah katakan, bukan berdasarkan apa yang dilihatnya, dan itu mengajarkan kita untuk mempercayai firman Allah bahkan ketika tidak masuk akal. Selain itu, setelah air bah, Allah mengikat perjanjian dengan Nuh dan semua makhluk hidup, ditandai dengan pelangi, yang mengingatkan kita akan kasih setia Allah yang tidak berkesudahan. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Allah memperhatikan manusia dan menawarkan keselamatan, tetapi pilihan untuk ikut serta tetap ada pada kita—sebagaimana Nuh memilih untuk percaya dan bertindak, kita pun dipanggil untuk merespons dengan iman yang hidup.