Suara Bapa dari Surga
Matius 3:17
Baptisan Yesus
“Dan, dengarlah suara dari surga yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.””Matius 3:17 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."”Matius 3:17 · TB
Terjemahan Baru
“Kemudian terdengar suara Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Ia menyenangkan hati-Ku."”Matius 3:17 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Kemudian terdengarlah suara dari surga yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang sangat Aku kasihi. Dialah yang menyenangkan hati-Ku.””Matius 3:17 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And lo a voice from heaven, saying, This is my beloved Son, in whom I am well pleased.”Matius 3:17 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Matius 3:17?
Suara dari surga berkata, 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.' Ini adalah pernyataan Allah Bapa yang menegaskan identitas Yesus sebagai Anak-Nya dan sumber sukacita-Nya, menguatkan Yesus dan semua yang hadir.
Latar belakang
Tiga pernyataan tentang siapa Yesus
Satu kalimat pendek dari surga memuat tiga klaim besar: 'Anak-Ku' (identitas), 'yang Kukasihi' (relasi), dan 'kepada-Nyalah Aku berkenan' (persetujuan ilahi). Ini bukan sekadar pujian — ini proklamasi resmi tentang siapa Yesus sebelum pelayanan-Nya dimulai. Bapa memperkenalkan Putra-Nya kepada dunia.
Di mana
Sungai Yordan
Suara dari surga terdengar di tepi sungai — di hadapan saksi
Kapan
~27-28 M
Konfirmasi ilahi atas identitas Yesus
Yang berbicara
Allah Bapa
Suara dari surga — satu-satunya kali Bapa bicara langsung dalam Injil Matius
Kepada
Yesus dan semua yang hadir
Konfirmasi publik atas identitas dan posisi Yesus
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
ἀγαπητός
agapētos · beloved
Yang dikasihi — dari kata agapē. Tapi dalam konteks Septuaginta, ini sering merujuk pada 'anak satu-satunya yang sangat berharga'
εὐδόκησα
eudokēsa · well pleased
Berkenan, senang, puas sepenuhnya — Bapa tidak hanya menerima Yesus, Dia sungguh-sungguh puas dan senang
ὁ υἱός μου
ho huios mou · my Son
Anak-Ku — bukan sekadar 'anak yang baik' atau 'hamba yang setia'. Ini klaim hubungan unik yang tidak tertandingi
Tiga kata kunci ini — Anak, Kasihi, Berkenan — membentuk identitas Yesus yang tidak bisa dilepaskan: Dia adalah Anak yang berelasi penuh dengan Bapa, bukan sekadar utusan atau nabi.
Tahukah kamu
Dua nubuat yang menyatu dalam satu kalimat
Frasa 'Anak-Ku yang Kukasihi' berasal dari Mazmur 2:7 (tentang Raja Mesias). Frasa 'kepada-Nyalah Aku berkenan' berasal dari Yesaya 42:1 (tentang Hamba TUHAN yang menderita). Dalam satu kalimat, Allah menggabungkan dua figur yang berbeda dalam tradisi Yahudi — Raja yang berkuasa dan Hamba yang menderita — dan mengidentifikasikan keduanya dengan Yesus.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Matius 3:17
Mazmur 2:7
Salah satu dari dua nubuat yang menyatu dalam suara Bapa di Yordan
“Aku mau menceritakan ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: 'Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.'”
Yesaya 42:1
Nubuat Hamba TUHAN yang juga digenapi dalam deklarasi Bapa di Yordan
“Lihat, hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepadanya jiwa-Ku berkenan.”
Matius 17:5
Bapa mengulang pernyataan yang hampir sama di atas gunung Transfigurasi — dengan tambahan 'dengarkanlah Dia'
“Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Matius 3:17
✕ Sering dikira
Yesus baru 'menjadi' Anak Allah saat dibaptis — sebelumnya Dia hanya manusia biasa
✓ Yang sebenarnya
Deklarasi ini adalah pengumuman publik, bukan momen penciptaan. Yesus sudah Anak Allah sebelum baptisan — ini konfirmasi kepada dunia, bukan proses menjadi
✕ Sering dikira
'Kepada-Nyalah Aku berkenan' berarti Allah hanya berkenan kepada Yesus yang sempurna dan tidak kepada manusia berdosa
✓ Yang sebenarnya
Ini memang pernyataan unik tentang Yesus — tapi maknanya bagi kita adalah: melalui Yesus yang diperkenan Bapa, kita pun bisa diterima (lihat Efesus 1:6)
Renungan
Renungan Singkat Matius 3:17
Seperti Yesus, kita juga adalah anak-anak Allah yang dikasihi. Ingatlah selalu bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh pencapaian, tetapi oleh kasih Bapa yang menerima kita sebagai anak-anak-Nya.
Bapa di surga, terima kasih karena Engkau mengasihi aku sebagai anak-Mu. Tolong aku hidup dalam keyakinan akan kasih-Mu dan menyenangkan hati-Mu. Amin.