Hukum hubungan seksual saat haid
Imamat 20:18
Hukum Kekudusan dan Akibatnya
“Jika seorang laki-laki melakukan hubungan seksual dengan seorang perempuan yang sedang haid, keduanya harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Laki-laki itu telah membuka lelehan darahnya dan perempuan itu telah menunjukkan lelehan darahnya.”Imamat 20:18 · AYT
Alkitab Yang Terbuka
“Bila seorang laki-laki tidur dengan seorang perempuan yang bercemar kain, jadi ia menyingkapkan aurat perempuan Imamat 20.19–22 111 itu dan membuka tutup lelerannya sedang perempuan itupun membiarkan tutup leleran darahnya itu disingkapkan, keduanya harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya.”Imamat 20:18 · TB
Terjemahan Baru
“Apabila seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang wanita yang sedang haid, mereka tidak lagi dianggap anggota umat-Ku.”Imamat 20:18 · BIS
Bahasa Indonesia Sehari-hari
“Apabila seorang laki-laki bersetubuh dengan perempuan yang sedang haid, mereka akan disingkirkan dari antara umat yang taat pada perjanjian-Ku, karena mereka melakukan hal yang sangat najis.”Imamat 20:18 · TSI
Terjemahan Sederhana Indonesia
“And if a man shall lie with a woman having her sickness, and shall uncover her nakedness; he hath discovered her fountain, and she hath uncovered the fountain of her blood: and both of them shall be cut off from among their people.”Imamat 20:18 · KJV
King James Version
Arti ayat
Apa Arti Imamat 20:18?
Ayat ini melarang hubungan seksual dengan perempuan yang sedang haid. Pada zaman itu, perempuan yang sedang haid dianggap najis secara ritual, dan hubungan dengannya menyebabkan kenajisan. Hukumannya adalah dilenyapkan dari antara bangsanya. Ini menekankan pentingnya menjaga kesucian dan mengikuti aturan-aturan yang Allah berikan.
Latar belakang
Kenajisan ritual dan hubungan seksual
Dalam sistem Taurat, darah haid dianggap menciptakan kenajisan ritual (bukan dosa). Hukum ini bukan soal jijik atau kebencian terhadap perempuan — tapi soal batas-batas ritual yang harus dihormati. Yang unik: hukuman di sini bukan mati tapi 'dilenyapkan' (pengucilan).
Di mana
Gurun Sinai
Di perkemahan Israel · padang gurun
Kapan
~1440 SM
Peristiwa Keluaran
Yang berbicara
TUHAN
Allah Israel, pemberi Taurat
Kepada
Umat Israel
Bangsa perjanjian yang baru keluar dari Mesir
Studi kata
Kata Kunci dalam Bahasa Asli
מְקוֹר דָּמֶיהָ
meqor dameha · lelehan darahnya
Harfiah 'sumber darahnya' — ungkapan yang menghormati anatomi perempuan tanpa menghinanya.
נִכְרְתוּ
nikhreтu · dilenyapkan
Pengucilan dari komunitas — hukuman yang lebih ringan dari kematian, menunjukkan tingkat pelanggaran yang berbeda.
גִּלְּתָה
giletah · menunjukkan
Menyingkapkan, memperlihatkan — perempuan 'menunjukkan' lelehannya berarti ia aktif dalam pelanggaran ini.
Bahwa perempuan juga dihukum dalam kasus ini menunjukkan ia bukan korban pasif — ia dianggap sebagai agen moral yang aktif dalam relasi, bukan objek yang pasif.
Tahukah kamu
Niddah: hukum kesucian perempuan dalam Yudaisme
Hukum ini menjadi dasar Niddah dalam tradisi Yahudi — masa pemisahan ritual selama haid. Sampai sekarang banyak pasangan Yahudi Ortodoks mengikuti hukum ini, termasuk mandi ritual (mikvah) setelah periode haid selesai.
Ayat terkait
Ayat Lain yang Menggemakan Imamat 20:18
Imamat 15:19-24
hukum kenajisan haid
“Apabila seorang perempuan mengalami lelehan darah... tujuh hari lamanya ia harus dalam keadaan najis...”
Yehezkiel 18:6
nabi mengulangi prinsip ini
“...tidak bersetubuh dengan istri orang, tidak menghampiri perempuan dalam masa kenajisannya...”
Imamat 18:19
larangan yang sama
“Jangan kamu menghampiri seorang perempuan untuk mengadakan hubungan seksual pada waktu dia dalam kenajisan karena haidnya.”
Sering disalahpahami
Salah Kaprah tentang Imamat 20:18
✕ Sering dikira
Hukum ini menunjukkan haid dianggap dosa
✓ Yang sebenarnya
Haid itu sendiri bukan dosa — itu kenajisan ritual (tumah) yang bersifat sementara. Yang dilarang adalah hubungan seksual selama periode itu.
✕ Sering dikira
Hukum ini sudah tidak relevan untuk orang Kristen
✓ Yang sebenarnya
Meski hukum seremonial Taurat tidak mengikat orang Kristen secara legal, prinsip menghormati tubuh dan batas-batas dalam pernikahan tetap relevan.
Renungan
Renungan Singkat Imamat 20:18
Marilah kita menghormati proses alamiah tubuh dan menjaga kekudusan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hubungan suami istri.
Tuhan, mampukan kami untuk hidup kudus dan menghormati tubuh kami sebagai bait Roh Kudus, Amin.